Pemerintah Provinsi Jawa Tengah kini mengubah arah kebijakan rumah sakit daerah dengan menempatkan fungsi sebagai prioritas utama. Ukuran keberhasilan tidak lagi semata-mata ditentukan oleh status atau klasifikasi rumah sakit, melainkan oleh seberapa tepat perannya dalam melayani kebutuhan masyarakat.
Perubahan pandangan itu juga menegaskan bahwa rumah sakit tidak harus selalu ramai pasien untuk dianggap berhasil. Dalam penekanan Sekretaris Daerah Jawa Tengah, Sumarno, tujuan layanan kesehatan justru adalah membuat masyarakat tetap sehat sehingga tidak perlu datang ke rumah sakit bila pencegahan bisa dilakukan lebih awal.
Rumah sakit dibagi sesuai kebutuhan layanan
Sumarno memandang rumah sakit pemerintah seharusnya saling melengkapi, bukan saling berebut pasien. Menurut dia, rumah sakit kabupaten dan kota perlu diperkuat untuk menangani layanan dasar, sementara rumah sakit provinsi hadir untuk kasus yang lebih kompleks.
Di tingkat yang lebih tinggi, rumah sakit milik pemerintah pusat diharapkan mengisi layanan yang belum mampu ditangani daerah. Pola pembagian peran seperti ini dinilai dapat membuat pelayanan kesehatan lebih efektif dan mengurangi penumpukan pasien di rumah sakit rujukan besar.
| Jenis Rumah Sakit | Peran Utama | Fokus Layanan |
|---|---|---|
| Kabupaten/Kota | Penguatan layanan dasar | Kasus yang bisa ditangani di daerah |
| Provinsi | Penanganan lebih kompleks | Kasus yang memerlukan kemampuan lanjutan |
| Pemerintah Pusat | Mengisi layanan yang belum tertangani daerah | Layanan yang belum mampu ditangani rumah sakit daerah |
Dalam kerangka baru itu, layanan dasar yang sudah mampu ditangani rumah sakit kabupaten tidak seharusnya seluruhnya diarahkan ke rumah sakit besar. Pemprov Jateng ingin kapasitas rumah sakit daerah diperkuat sesuai kompetensi masing-masing agar alur layanan lebih tertata.
Pencegahan dinilai sama penting dengan pengobatan
Sumarno juga menegaskan bahwa sektor kesehatan tidak boleh diukur hanya dari jumlah pasien yang datang ke rumah sakit. Ia menilai ukuran yang lebih penting adalah meningkatnya derajat kesehatan masyarakat secara keseluruhan.
Karena itu, upaya promotif dan preventif perlu mendapat perhatian yang sama besar dengan layanan kuratif. Arah ini menunjukkan bahwa rumah sakit tidak cukup hanya hadir saat warga sakit, tetapi juga harus menjadi bagian dari sistem pencegahan.
Dalam pandangan tersebut, rumah sakit yang sepi pasien tidak selalu berarti buruk. Selama kondisi itu mencerminkan masyarakat yang lebih sehat, maka tujuan utama layanan kesehatan dinilai telah bergerak ke arah yang benar.
BLU dituntut lebih efisien dan terukur
Selain soal pembagian peran, Sumarno menyoroti karakter Badan Layanan Umum atau BLU yang memberi fleksibilitas dalam pengelolaan keuangan. Namun, fleksibilitas itu menurut dia harus dibarengi efisiensi dan efektivitas yang lebih kuat.
Ia meminta setiap rumah sakit menghitung biaya riil dari setiap layanan kesehatan dan tindakan medis. Dengan cara itu, pengelolaan anggaran bisa lebih terukur tanpa mengurangi kualitas pelayanan kepada masyarakat.
Arah kebijakan baru Pemprov Jateng menempatkan rumah sakit daerah sebagai bagian dari sistem kesehatan yang lebih tertata. Fokusnya bukan lagi pada perebutan status, melainkan pada fungsi yang saling mendukung sesuai kebutuhan layanan di lapangan.
Source: solo.suaramerdeka.com






