Pendapatan RAJA Terkoreksi 16 Persen, Namun Diversifikasi Usaha Mendorong Laba Naik 14 Persen

Author: Redaksi Android62

Di tengah tekanan pada pendapatan, PT Rukun Raharja Tbk atau RAJA justru berhasil membukukan kenaikan laba bersih pada kuartal I 2026. Laba bersih yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk naik 14 persen menjadi 10,5 juta dollar AS, dari 9,2 juta dollar AS pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Kenaikan itu menarik perhatian karena terjadi saat pendapatan perusahaan turun cukup dalam. Pada tiga bulan pertama 2026, RAJA mencatat pendapatan 55,3 juta dollar AS, lebih rendah dibanding 66,1 juta dollar AS pada kuartal I 2025.

Diversifikasi jadi penahan utama

Kinerja yang tetap positif tidak datang dari satu sumber saja. RAJA mendapat dorongan dari jasa penyewaan gas compression plant di Sengkang, Sulawesi Selatan, yang menjadi salah satu penopang penting di tengah terganggunya lini usaha lain.

Perusahaan juga memperoleh dukungan dari pendapatan non-operasional. Sumber ini berasal dari investasi strategis pada bisnis Engineering, Procurement, Construction & Installation atau EPCI.

Selain itu, kontribusi juga datang dari sektor pelayaran melalui grup Hafar. Kombinasi beberapa sumber pemasukan tersebut membantu perseroan menjaga profitabilitas tetap bergerak naik meski pendapatan utama tertekan.

Gangguan pipa Pekanbaru menekan penjualan gas

Tekanan pada pendapatan terutama dipicu gangguan teknis di jalur pipa gas area Pekanbaru. Insiden itu menekan bisnis midstream dan downstream, lalu dinyatakan sebagai kondisi force majeure oleh mitra kerja perusahaan.

Dampaknya, penyaluran gas ke pelanggan harus disesuaikan sementara waktu. Situasi ini menjadi faktor utama yang membuat pendapatan RAJA terkoreksi pada awal tahun.

Meski begitu, kondisi tersebut tidak langsung menyeret seluruh lini kinerja ke bawah. Struktur bisnis yang lebih beragam memberi ruang bagi perusahaan untuk menjaga hasil akhir tetap berada di jalur positif.

Laba di level operasional ikut membaik

Perbaikan tidak hanya terlihat pada laba bersih. Laba kotor RAJA naik menjadi 19,9 juta dollar AS dari 18,7 juta dollar AS pada periode yang sama tahun lalu.

Laba usaha juga meningkat menjadi 14,6 juta dollar AS, lebih tinggi dibanding 12,8 juta dollar AS pada kuartal I 2025. Laba sebelum pajak pun bertambah menjadi 15,3 juta dollar AS dari 12,2 juta dollar AS.

Rangkaian angka itu menunjukkan bahwa tekanan pendapatan tidak otomatis menekan semua lapisan keuntungan. Di sisi lain, dukungan dari bisnis yang lebih beragam ikut memperkuat ketahanan kinerja perseroan.

Ekspansi tetap disiapkan untuk menjaga pertumbuhan

RAJA juga menyiapkan sejumlah langkah untuk memperkuat fondasi bisnis ke depan. Salah satunya adalah pembangunan infrastruktur pipa bahan bakar minyak atau BBM yang menghubungkan Balikpapan dan Samarinda di Kalimantan Timur, dengan konstruksi dijadwalkan mulai berjalan pada kuartal III 2026.

Di sektor hulu, anak usaha PT Raharja Energi Cepu Tbk (RATU) tengah merampungkan akuisisi SMS Development Limited. Perusahaan itu memegang participating interest di Blok Madura Strait dan diharapkan mulai memberi kontribusi keuangan pada kuartal II 2026.

Ekspansi lain juga disiapkan melalui rencana akuisisi hak partisipasi pada salah satu blok migas di wilayah Indonesia Timur. Langkah tersebut diproyeksikan terealisasi pada kuartal II 2026 untuk memperkuat portofolio energi terintegrasi dari hulu hingga hilir.

Direktur Utama Rukun Raharja, Djauhar Maulidi, menilai diversifikasi usaha menjadi kunci untuk menjaga stabilitas kinerja di tengah tekanan operasional. Ia juga menyebut perseroan akan terus memperkuat bisnis inti serta mengembangkan infrastruktur energi.

Dengan pendapatan yang masih tertekan namun laba bersih tetap naik, RAJA menunjukkan bahwa lini usaha di luar bisnis yang terganggu sedang memainkan peran penting. Di saat jalur pipa Pekanbaru menahan volume penyaluran gas, sumber pendapatan lain justru membantu perusahaan mempertahankan pertumbuhan.

Berita Terbaru