Pemerintah membuka kemungkinan mempersempit sasaran Program Makan Bergizi Gratis atau MBG. Keluarga pada desil bawah, daerah tertinggal, dan wilayah dengan prevalensi stunting tinggi menjadi kelompok yang diprioritaskan dalam kajian.
Perubahan ini belum menjadi keputusan final karena Badan Gizi Nasional masih menelaah sejumlah pilihan kebijakan. Hasil kajian ditargetkan rampung dalam waktu satu bulan sebelum pemerintah mengumumkan arah penerima manfaat berikutnya.
Evaluasi Menyasar Ketepatan Penerima
Peninjauan sasaran MBG dilakukan setelah Presiden Prabowo Subianto meminta evaluasi atas pelaksanaan program tersebut. Efisiensi anggaran dan ketepatan distribusi manfaat menjadi dua perhatian utama dalam pembahasan.
Wakil Kepala Badan Gizi Nasional, Agustina Arumsari, menyatakan pemerintah menerima berbagai masukan mengenai pelaksanaan program. Masukan itu akan dikaji sebelum ada penetapan mengenai kelompok yang tetap mendapat manfaat MBG.
Menurut Agustina, bantuan perlu diarahkan kepada masyarakat yang benar-benar membutuhkan dukungan. Pemerintah juga membahas kebutuhan di daerah tertinggal serta kawasan dengan risiko stunting yang tinggi.
“Yang perlu diefisienkan, yang tidak harus menerima lagi program MBG, ya, silakan tidak usah menerima lagi, tetapi mereka yang berada di desil yang di bawah, di daerah yang tertinggal, di daerah yang bervalensi stunting-nya tinggi silakan diberikan,” kata Agustina.
Pernyataan tersebut menunjukkan evaluasi tidak hanya berfokus pada jumlah penerima. Pemerintah juga menimbang kondisi sosial ekonomi keluarga dan tantangan gizi pada wilayah penerima.
Desil Menjadi Salah Satu Dasar Penyaluran
Desil adalah pengelompokan tingkat kesejahteraan keluarga berdasarkan variabel sosial ekonomi. Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional atau DTSEN membagi keluarga di Indonesia ke dalam 10 tingkat kesejahteraan.
Pengelompokan ini digunakan sebagai salah satu dasar penentuan sasaran bantuan sosial. Rincian peringkat kesejahteraan keluarga tercantum dalam Keputusan Menteri Sosial RI Nomor 79/HUK/2025 tentang Penetapan Peringkat Kesejahteraan Keluarga.
| Kelompok | Keterangan Kesejahteraan |
|---|---|
| Desil 1 | 10% rumah tangga terendah atau sangat miskin |
| Desil 2 | Kelompok 10–20% terendah atau miskin |
| Desil 3 | Kelompok 20–30% terendah atau hampir miskin |
| Desil 4 | Kelompok 30–40% terendah atau rentan miskin |
| Desil 5–6 | Kelompok 40–60% terendah |
| Desil 7–10 | Kelompok 30% tertinggi dalam rincian yang dikutip |
Fokus pada kelompok desil bawah berpotensi mengarahkan MBG kepada keluarga sangat miskin, miskin, hampir miskin, dan rentan miskin. Namun, pemerintah belum menjelaskan batas desil yang akan dipakai dalam skema baru tersebut.
Rincian Sekolah dan Mekanisme Belum Diputuskan
Wakil Kepala Badan Gizi Nasional, Trenggono, mengatakan arahan Presiden akan segera ditindaklanjuti melalui pengkajian menyeluruh. BGN belum dapat memerinci jenis sekolah yang akan menjadi sasaran program pada tahap berikutnya.
Ia menegaskan prioritas MBG tetap ditujukan kepada kelompok yang membutuhkan. Pemerintah juga belum menyampaikan apakah perubahan sasaran akan diterapkan bertahap atau sekaligus setelah kajian selesai.
“Hasilnya akan disampaikan setelah kajian kita selesai. Semua ini masih kita adakan pengkajian dulu,” ujar Trenggono. Dengan demikian, penerima MBG yang berlaku saat ini belum dapat dipastikan berubah sebelum hasil evaluasi diumumkan.
Pertimbangan berbasis wilayah dapat berjalan bersamaan dengan data kesejahteraan keluarga. Daerah tertinggal dan kawasan dengan prevalensi stunting tinggi disebut sebagai bagian dari fokus yang sedang dibahas pemerintah.
