Penyelam Tangguh dari Samudra Dingin, Imperial Shag Tahan Beku dan Hidup Berkoloni Rapat

Di lingkungan laut yang dingin dan keras, Imperial Shag menunjukkan cara bertahan yang sangat efisien. Burung laut ini mampu menyelam cukup dalam untuk mencari makan, lalu kembali ke permukaan tanpa perlu banyak waktu mengeringkan tubuhnya.

Spesies yang dikenal dengan nama ilmiah Leucocarbo atriceps ini hidup di pesisir belahan bumi selatan, terutama di tebing karang curam dan pulau-pulau kecil yang terisolasi. Penampilannya mencolok dengan tubuh hitam mengilap, leher hingga perut putih, lingkaran kulit biru cerah di sekitar mata, dan benjolan jingga di pangkal paruh.

Penyelam tangguh di air dingin

Keunggulan utama Imperial Shag ada pada kemampuan menyelamnya. Burung ini dapat turun hingga kedalaman 80 kaki di bawah permukaan air, dan pada beberapa populasi bahkan mampu mencapai 200 kaki untuk menyisir dasar samudra.

Dorongan utamanya berasal dari sepasang kaki berselaput lebar yang membantu mereka melawan arus laut kencang. Di dekat pantai, mereka memburu ikan kecil dan hewan tak bertulang belakang dengan memanfaatkan paruh panjang dan kokoh.

Bekal bulu yang rapat dan kedap air

Tubuh Imperial Shag memiliki lapisan bulu bagian dalam yang sangat rapat. Susunan ini membentuk pelindung kedap air yang efektif sehingga kulit tetap kering dan hangat setelah menyelam.

Adaptasi tersebut membuat burung ini tidak perlu lama merentangkan sayap untuk mengeringkan tubuh. Di lingkungan kutub yang membekukan, efisiensi seperti ini sangat penting karena energi tidak banyak terbuang untuk melawan dingin.

Mangsa yang beragam

Pola makan Imperial Shag tidak bergantung pada satu jenis makanan saja. Burung ini juga menangkap ikan bentik, cacing laut, keong, gurita, dan cumi-cumi.

Keragaman makanan itu membantu mereka bertahan saat stok ikan menipis. Paruhnya yang memiliki gerigi halus di tepi juga berguna untuk mencengkeram mangsa licin seperti gurita sebelum ditelan bulat-bulat.

Wajah yang berubah sesuai musim

Ciri fisik Imperial Shag tidak selalu terlihat sama sepanjang tahun. Saat musim kawin, burung dewasa menumbuhkan jambul hitam tegak di atas kepala.

Corak putih pada pipi dan sayap juga bisa berbeda tergantung wilayah sebaran geografisnya. Sementara itu, anakan yang baru menetas tampak cokelat polos tanpa hiasan warna di wajah.

Hidup berdekatan dalam koloni besar

Cara hidup burung ini sangat bergantung pada koloni yang rapat. Pasangan yang terikat seumur hidup membangun sarang di atas tebing menggunakan rumput laut dan rumput kering yang direkatkan dengan lumpur serta kotoran mereka sendiri.

Sarang berbentuk mangkuk itu disusun berhimpitan hingga membentuk klaster padat. Kawasan pembiakan massal ini bahkan sering ditempati bersama penguin dan albatros untuk mengurangi gangguan eksternal.

Induk betina dapat menghasilkan hingga lima butir telur, lalu kedua induk bergantian mengerami selama lima minggu. Meski tetap menghadapi tekanan dari burung pemangsa seperti skua, pertahanan kelompok yang rapat membantu Imperial Shag bertahan di habitat ekstrem Amerika Selatan.

Source: www.idntimes.com

Berita Terkait