Penyesalan Einstein setelah Bom Atom Menewaskan Ribuan Warga di Jepang

Albert Einstein menyebut surat yang ia tanda tangani untuk Presiden Franklin D. Roosevelt sebagai “satu kesalahan besar dalam hidup saya”. Penyesalan itu muncul setelah bom atom digunakan Amerika Serikat di Hiroshima dan Nagasaki pada Agustus 1945.

Serangan tersebut menewaskan dan melukai sekitar 200.000 orang seketika. Dampak radiasi juga meninggalkan penderitaan dalam jangka panjang bagi para korban di Jepang.

Bom Digunakan setelah Uji Coba Berhasil

Sebelum dijatuhkan ke Jepang, senjata atom pertama diuji di gurun Alamogordo, New Mexico, Amerika Serikat. Uji coba itu berlangsung pada 16 Juli 1945 pukul 05.29 pagi dengan nama sandi “the gadget”.

Ledakan tersebut membuktikan bahwa senjata nuklir berhasil diwujudkan melalui Manhattan Project. Awan jamur yang terbentuk mencapai sekitar 40.000 kaki atau 12.192 meter.

Daya ledaknya diperkirakan setara 15.000 hingga 20.000 ton TNT. Ledakan itu juga menguapkan menara penyangga tempat perangkat bom dipasang.

TahapWaktuPeristiwa
Surat kepada Roosevelt2 Agustus 1939Einstein dan Leo Szilard memperingatkan potensi bom uranium.
Dana riset awalFebruari 1940Pemerintah federal menyediakan 6.000 dolar AS.
Project Y1943Pengembangan bom dipusatkan di Los Alamos.
Uji coba pertama16 Juli 1945“The gadget” diledakkan di Alamogordo.

Setelah uji coba itu, Amerika Serikat menjatuhkan bom Little Boy di Hiroshima pada 6 Agustus 1945. Tiga hari kemudian, bom Fat Man dijatuhkan di Nagasaki.

Kompas mencatat uji coba di New Mexico berlangsung ketika Jerman telah menyerah. Fokus penggunaan bom kemudian bergeser kepada Jepang.

Surat yang Memicu Perhatian Pemerintah AS

Peran Einstein bermula pada 2 Agustus 1939 melalui surat dua halaman kepada Roosevelt. Surat itu ditulis atas dorongan fisikawan kelahiran Hongaria, Leo Szilard.

Einstein dan Szilard memperingatkan bahwa uranium dapat menjadi sumber energi besar sekaligus bahan bagi bom berkekuatan sangat besar. Kekhawatiran mereka mengarah pada kemungkinan Jerman Nazi mengembangkan senjata nuklir lebih dahulu.

Kecurigaan itu menguat setelah Jerman menghentikan penjualan uranium dari wilayah Cekoslowakia yang didudukinya. Einstein dan Szilard sama-sama merupakan warga Yahudi yang melarikan diri dari rezim Nazi.

BBC menyebut surat tersebut membuat pemerintah Amerika Serikat memberi perhatian serius kepada penelitian nuklir. Namun, Einstein tidak terlibat langsung dalam pembuatan bom atom.

Pandangan politiknya yang cenderung kiri serta latar belakangnya sebagai orang Jerman membuat Einstein tidak memperoleh izin keamanan. Ia kemudian menegaskan bahwa perannya dalam pelepasan energi atom bersifat “sangat tidak langsung”.

Riset Kecil Berubah Menjadi Megaproyek

Pemerintah federal AS pada awalnya hanya mengucurkan 6.000 dolar AS untuk riset pada Februari 1940. Skala program membesar setelah Amerika Serikat terlibat dalam Perang Dunia II melawan blok Poros pada awal 1942.

War Department kemudian mengambil alih penelitian dan menghapus batas anggaran. Program itu berkembang menjadi Manhattan Project dengan nilai sekitar 2 miliar dolar AS.

Brigadir Jenderal Leslie R. Groves memimpin proyek tersebut, sedangkan riset teori dilakukan di sejumlah lokasi. Di University of Chicago, Enrico Fermi berhasil memicu reaksi berantai fisi pertama.

Pada 1943, pengembangan utama bom dipusatkan dalam Project Y di Los Alamos, New Mexico. J. Robert Oppenheimer memimpin pusat itu bersama ilmuwan seperti Hans Bethe, Edward Teller, dan Fermi.

Sehari setelah uji coba di New Mexico, Szilard mengajukan petisi agar Jepang diberi kesempatan menyerah sebelum bom dijatuhkan. Petisi tersebut terlambat sampai kepada otoritas terkait.

Dalam wawancara dengan Newsweek Magazine pada 1947, Einstein mengatakan tidak akan melakukan apa pun untuk bom itu jika mengetahui Jerman tidak akan berhasil membuatnya. Menjelang wafat pada Juli 1955, namanya dikaitkan dengan Russell-Einstein Manifesto yang menentang perang nuklir dan risiko kematian massal global.

Berita Terkait