Di tengah derasnya promosi kecantikan di media sosial, pengamat sosial Novitasari menilai rasa percaya diri menjadi benteng utama untuk melawan standar cantik yang keliru. Menurutnya, anggapan bahwa perempuan harus berkulit putih bukanlah ketentuan alami, melainkan hasil konstruksi sosial yang terus dibentuk.
Tekanan itu tidak berhenti pada wacana. Dalam keseharian, banyak remaja perempuan terdorong memakai produk pemutih bukan semata karena kebutuhan perawatan kulit, tetapi juga karena dorongan agar diterima oleh lingkungan sekitar.
Standar Kulit Cerah Terus Diperkuat
Novitasari menjelaskan bahwa pandangan tentang kulit putih sebagai ukuran kecantikan muncul dari proses sosial yang berulang. Ia merujuk pada teori konstruksi sosial Peter L. Berger dan Thomas Luckmann, yang menekankan bahwa nilai yang dianggap normal lahir dari kesepakatan sosial dan diwariskan terus-menerus.
Dalam konteks ini, industri kecantikan ikut memperkuat definisi cantik yang sempit. Blitarkawentar.jawapos.com menuliskan bahwa iklan, influencer, dan promosi digital masih sering menampilkan perempuan berkulit cerah sebagai sosok yang menarik, sukses, dan percaya diri.
Di lingkungan pergaulan remaja, pengaruh itu kerap terasa lebih dekat. Novitasari mengingat pengalaman saat SMA sekitar 2016, ketika teman yang memakai produk pemutih sering membuat yang lain ikut mencoba karena takut tertinggal dari standar yang berlaku.
| Faktor | Dampak yang Muncul |
|---|---|
| Media sosial dan iklan | Memperkuat citra kulit cerah sebagai standar ideal |
| Lingkungan pergaulan | Mendorong remaja ikut-ikutan memakai produk pemutih |
| Industri kecantikan | Menjadikan kulit putih sebagai simbol kecantikan yang dianggap utama |
Self-Love Ada, tetapi Tekanan Belum Reda
Belakangan, kampanye self-love dan skin positivity memang semakin sering muncul di ruang digital. Pesan yang dibawa gerakan itu mendorong masyarakat menerima warna kulit apa adanya dan melihat keberagaman sebagai bagian dari kecantikan.
Namun, Novitasari menilai arus pesan tersebut belum cukup kuat untuk menandingi promosi industri kecantikan. Ia melihat konten yang memuja kulit cerah masih lebih dominan dan lebih mudah membentuk persepsi remaja perempuan.
Dampaknya, tidak sedikit perempuan merasa kurang percaya diri ketika warna kulitnya berbeda dari standar yang sering dipamerkan. Kondisi ini membuat mereka perlu lebih kritis dalam menyaring pesan dari media sosial dan iklan yang terus beredar.
Percaya Diri Jadi Modal Utama
Novitasari menegaskan bahwa tujuan utama iklan adalah membangun kebutuhan agar produk terjual. Karena itu, tidak semua pesan yang tampil di ruang publik layak diterima begitu saja sebagai ukuran kecantikan.
Ia mendorong generasi muda untuk berada di lingkungan yang lebih inklusif dan menghargai keberagaman. Lingkungan seperti itu, menurutnya, bisa membantu seseorang membangun rasa percaya diri tanpa harus mengikuti standar kecantikan yang sempit.
Ia juga menilai perempuan yang memiliki kepercayaan diri akan lebih mudah menonjolkan karakter, kemampuan, dan prestasi yang dimiliki. Dengan begitu, penilaian terhadap diri tidak hanya bergantung pada penampilan fisik semata.
Novitasari berharap masyarakat mulai meninggalkan anggapan bahwa kecantikan hanya diukur dari warna kulit. Setiap perempuan memiliki karakteristik yang berbeda, dan keberagaman itu justru menjadi bagian dari nilai kecantikan sendiri.
Di tengah pesatnya industri kecantikan dan kuatnya pengaruh media sosial, kesadaran untuk mencintai diri sendiri menjadi langkah penting agar perempuan tidak mudah terjebak pada standar yang dibentuk tekanan sosial. Bagi Novitasari, kunci melawan standar cantik yang salah tetap berada pada rasa percaya diri yang kuat.







