Parkway Drive menutup hari pertama Hammersonic 2026 dengan ledakan energi yang langsung menguasai panggung utama. Saat “Glitch” dibuka tepat pukul 23.00 WIB, ribuan Hammerhead menyambutnya dengan antusias, lalu ikut larut dalam lagu-lagu seperti “Prey,” “Carrion,” hingga “Wild Eyes.”
Penampilan penutup itu menjadi puncak malam yang sejak awal memang sudah dipenuhi tensi tinggi. Pergantian line-up di hari pertama tidak membuat suasana meredup, karena penonton tetap memadati NICE, PIK 2, Tangerang, sejak siang dengan lautan kaus hitam yang khas di festival musik keras.
Daya tarik Hammersonic kembali terlihat bukan hanya dari daftar penampil, tetapi juga dari skala penyelenggaraan yang besar. Tiga panggung utama dan bentangan LED sekitar 1.000 meter memberi kesan megah pada festival musik rock dan metal terbesar di Asia Tenggara itu.
Sejak awal hari, warna panggung langsung berganti ketika Pee Wee Gaskins tampil di Magnumotion Stage. Band asal Jakarta itu membawa nuansa pop punk yang berbeda di tengah dominasi metal dan hardcore, lalu memainkan “Jumping Jupiter,” “Sassy Girl,” dan “Heartbreak Can Be a Good Business” tanpa jeda.
Set mereka memancing sing along dari penonton dan memberi energi nostalgia di tengah atmosfer keras festival. Kehadiran Pee Wee Gaskins membuat hari pertama terasa lebih berlapis, karena warna musik yang dibawa tidak hanya bertumpu pada satu karakter saja.
Menjelang sore, Burgerkill mengubah suasana menjadi lebih gelap dan padat. Tampil di Magnumotion Stage, band metal kebanggaan Indonesia itu bergerak agresif dan solid, sekaligus memicu mosh pit yang lebih liar di depan panggung.
Kembalinya Vicky Mono sebagai vokalis menambah tenaga pada penampilan Burgerkill. Salah satu momen yang paling mencuri perhatian adalah saat mereka membawakan “Air Mata Api” dari Iwan Fals.
Selepas Magrib, giliran Eyehategod yang menyentak Hammer Stage dengan sludge metal yang berat. Setelah itu, tensi belum turun karena Speed mengambil alih Sonic Stage dengan hardcore yang cepat dan tanpa kompromi.
Band asal Australia itu tampil penuh tekanan dan membuat penonton bergerak eksplosif. Jem Siow juga menjadi sorotan saat memainkan flute ketika membawakan lagu andalan “The First Test.”
Respons penonton terhadap Speed terasa kuat di area depan panggung. Prima Yuda, penggemar berat hardcore asal Bandung berusia 36 tahun, mengaku puas menikmati penampilan mereka dan menyebut Counterparts serta Parkway Drive juga tampil maksimal.
Intensitas kemudian dijaga oleh Counterparts di Hammer Stage. Sejak awal set, area depan panggung dipenuhi mosh pit dan circle pit yang terus berputar, sementara lagu “A Wings of Nightmares” dan “Paradise and Plague” mempertahankan tekanan emosional sekaligus agresif.
Brendan Murphy turut menyampaikan apresiasi atas kehadiran penonton. Ia juga menyebut bandnya masih punya banyak yang akan ditampilkan, seolah memberi sinyal bahwa energi malam itu belum habis.
Di tengah seluruh perubahan line-up dan padatnya jadwal tampil, antusiasme Hammerhead tetap tidak tergoyahkan. Hammersonic 2026 hari pertama pun berjalan sebagai perayaan kolektif musik keras yang tetap hidup dari siang hingga penutup malam.
Source: www.idntimes.com