Peringatan Evakuasi Baru Di Lebanon Selatan, Israel Dan Sinyal Damai Iran Sama-Sama Mengguncang Kawasan

Di tengah sorotan dunia yang masih terpusat pada Timur Tengah, Israel kembali memperluas tekanan militernya di Lebanon selatan. Peringatan evakuasi baru dikeluarkan untuk lebih dari 10 desa dan kota di luar area yang didudukinya, termasuk wilayah di distrik Nabatieh di utara Sungai Litani.

Langkah itu menambah ketegangan di kawasan yang sudah rapuh oleh rangkaian operasi militer dan manuver diplomatik. Pasukan Israel disebut ditempatkan di selatan Sungai Litani, sementara peringatan baru membuat situasi sipil di Lebanon selatan kembali berada dalam kondisi genting.

Di lapangan, serangan Israel di berbagai titik di Lebanon selatan juga menimbulkan korban jiwa. Lembaga berita negara Lebanon melaporkan tiga orang tewas di Sammaiyeh, distrik Tyre, akibat serangan pada Sabtu.

Militer Israel mengatakan operasi tersebut diarahkan untuk membongkar sekitar 70 struktur militer dan sekitar 50 lokasi infrastruktur Hezbollah di wilayah selatan Lebanon. Namun, serangan itu juga memicu perhatian atas dampaknya terhadap sejumlah lokasi keagamaan.

L’Oeuvre d’Orient, lembaga amal Katolik Prancis, mengatakan pasukan Israel menghancurkan sebuah biara milik Suster-Suster Salvatorian di Lebanon. Militer Israel mengakui ada sebuah bangunan religius yang rusak saat pasukan beroperasi di desa Yaroun, dan mereka menyebut rumah-rumah di dalam kompleks religius juga ikut rusak ketika operasi dilakukan untuk menghancurkan infrastruktur teroris.

Di saat ketegangan militer terus berjalan, jalur diplomasi justru membuka babak baru yang belum pasti arahnya. Iran dilaporkan mengajukan proposal 14 poin kepada mediator Pakistan, yang menurut Tasnim mencakup penghentian konflik di semua front dan pembentukan kerangka baru untuk Selat Hormuz.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengatakan akan meninjau rencana damai baru dari Iran, tetapi ia tetap meragukan peluangnya. Lewat Truth Social, Trump menulis bahwa sulit membayangkan rencana itu bisa diterima.

Trump juga menyampaikan bahwa Iran belum membayar harga yang cukup besar atas apa yang ia sebut sebagai tindakan terhadap kemanusiaan dan dunia selama 47 tahun terakhir. Nada keras itu memperlihatkan betapa hubungan Washington dan Teheran masih jauh dari titik tenang.

Persoalan ini tidak berhenti di Timur Tengah. Juru bicara NATO sebelumnya mengatakan aliansi masih mencari informasi lebih lanjut soal keputusan Amerika Serikat, sementara Kanselir Jerman Friedrich Merz menilai Iran sedang mempermalukan pemerintahan Trump dalam negosiasi.

Pada saat yang sama, Trump juga mengatakan Amerika Serikat akan menarik lebih banyak pasukan dari Jerman dibanding yang sebelumnya diumumkan Pentagon. Ia menyebut jumlahnya akan turun jauh dan jauh lebih banyak dari 5.000, meski tanpa memberikan rincian tambahan.

Pernyataan itu menambah ketidakpastian mengenai posisi militer AS di Eropa ketika perhatian politik dan keamanan masih tertuju ke Timur Tengah. Walau tidak dijelaskan kaitannya secara langsung dengan perang di kawasan, langkah tersebut menunjukkan bahwa keputusan keamanan Amerika bisa memengaruhi banyak front sekaligus.

Tekanan terhadap Iran sendiri juga datang dari dalam negeri. Otoritas kehakiman mengatakan seorang pria dihukum gantung karena terlibat dalam pembunuhan seorang relawan pasukan keamanan selama protes anti-pemerintah.

Situs Mizan Online milik kehakiman menyebut hukuman mati terhadap Mehrab Abdollahzadeh dijalankan pada pagi hari setelah seluruh formalitas hukum selesai. Di sisi lain, pemerintah Iran berencana mengubah bekas lokasi serangan di sebuah universitas di Iran tengah menjadi museum.

Zafarollah Kalantari, kepala Isfahan University of Technology, mengatakan situs yang rusak itu akan dipertahankan sebagai museum perang. Ia menambahkan bahwa tempat tersebut akan menjadi dokumen sejarah tentang penindasan ilmiah di negara itu.

Dari Gaza, efek konflik juga terus merambat ke ranah hukum dan kemanusiaan. Dua aktivis asing dari flotila tujuan Gaza dibawa ke pengadilan setelah diinterogasi di Israel.

Mereka adalah warga Spanyol Saif Abu Keshek dan warga Brasil Thiago Avila, yang menurut Miriam Azem dari kelompok hak asasi Israel Adalah dibawa ke pengadilan di kota Ashkelon. Rangkaian ini memperlihatkan bahwa konflik di kawasan tidak hanya bergerak di medan tempur, tetapi juga di meja diplomasi, jalur hukum, dan ruang kemanusiaan.

Berita Terkait