Permintaan Alat Berat UNTR Melandai, Dividen Batu Bara Tetap Diperebutkan Pasar

Pasar tengah menimbang ulang saham-saham batu bara dan alat berat ketika harga komoditas tidak lagi berada di titik tertinggi, sementara imbal hasil dividen masih menjadi daya tarik utama. Di tengah kondisi itu, penjualan Komatsu milik PT United Tractors Tbk atau UNTR ikut menunjukkan perlambatan pada periode awal tahun.

Data internal perusahaan mencatat penjualan Komatsu turun 10,50 persen secara tahunan menjadi 869 unit pada periode Januari hingga Februari, dari 917 unit pada periode yang sama sebelumnya. Pergerakan ini memberi gambaran bahwa permintaan alat berat mulai menyesuaikan diri setelah memasuki fase yang lebih tenang di sektor tambang.

Permintaan alat berat mulai normal

UNTR sangat terkait dengan aktivitas pertambangan, sehingga perubahan arah harga batu bara cepat berdampak ke lapangan. Saat harga komoditas melemah, perusahaan tambang cenderung menahan belanja modal dan memilih bergerak lebih selektif.

Dalam kondisi seperti itu, kebutuhan alat berat tidak lagi sekuat saat industri menikmati siklus harga tinggi. Perlambatan penjualan Komatsu menjadi salah satu penanda bahwa pasar alat berat sedang memasuki fase normalisasi setelah periode yang sebelumnya kuat.

Dividen tetap menjadi perhatian utama

Meski harga batu bara tidak lagi menguat seperti pada masa puncak siklus, minat investor terhadap emiten sektor ini belum mereda. Alasannya tetap sama, yaitu potensi dividen yang dinilai masih menarik dibandingkan banyak sektor lain.

Bisnis.com melaporkan bahwa investor kini memberi perhatian pada PT Indo Tambangraya Megah Tbk atau ITMG dan PT Alamtri Resources Indonesia Tbk atau ADRO karena prospek pembagian laba yang masih dianggap kompetitif. UNTR juga masih masuk radar karena rekam jejak dividennya yang relatif kuat.

Berikut ringkasan dividen yang menjadi sorotan pasar:

EmitenDividen per sahamCatatan
UNTRRp2.151Tahun buku 2024
ITMGRp3.473Menjadi perhatian pasar karena imbal hasil tinggi
ADROTidak disebutkanMengalami penyesuaian nilai tebaran laba

Pada masa puncaknya, UNTR pernah membagikan dividen hingga Rp7.003 per saham. Angka itu membuat emiten ini tetap dipantau investor yang mencari arus pendapatan dari sektor energi dan tambang.

Harga batu bara belum kembali ke level lama

Dari sisi pasar komoditas, dukungan terhadap harga batu bara dinilai belum cukup kuat untuk membawa harga kembali ke level tertinggi sebelumnya. Analis Indo Premier Sekuritas Imam Gunadi menilai dukungan tersebut masih bersifat sementara.

Ia menyebut kecil kemungkinan harga batu bara kembali ke puncak 2022. Pandangan ini mempertegas bahwa industri batu bara sedang berada dalam fase transisi setelah masa supercycle berakhir.

Yield masih menahan minat investor

Di tengah tekanan harga komoditas, dividend yield tetap menjadi alasan banyak investor bertahan di sektor ini. Imam memperkirakan yield ITMG masih berada di kisaran 8 persen hingga 9 persen, sedangkan UNTR berada pada level 5 persen hingga 8 persen dalam beberapa tahun mendatang.

Direktur Purwanto Asset Management Edwin Sebayang juga menilai dividen masih menjadi pertimbangan utama di sektor tambang. Menurut dia, pembagian laba lebih mudah diperkirakan dibandingkan pergerakan harga komoditas yang sifatnya sangat siklikal.

Sejumlah faktor kini akan menentukan arah saham tambang dan alat berat, mulai dari keputusan final dividen emiten batu bara besar, pergerakan harga batu bara global, realisasi produksi dan belanja modal perusahaan tambang, hingga dampak normalisasi permintaan alat berat terhadap kinerja UNTR. Jika harga komoditas bertahan stabil tanpa kembali ke puncak lama, pasar akan semakin menilai emiten tambang dari konsistensi dividen dan ketahanan kinerjanya.

Berita Terkait