Permintaan EV BYD Melonjak, Produksi Blade Battery Justru Jadi Batas Terbesar

Author: Redaksi Android62

BYD sedang menikmati lonjakan permintaan kendaraan listrik di pasar global, tetapi pertumbuhan itu kini dibatasi oleh kemampuan produksinya sendiri. Hambatan terbesarnya bukan datang dari pasar, melainkan dari produksi baterai yang belum mampu mengejar kebutuhan kendaraan listrik yang terus naik.

Presiden BYD Wang Chuanfu menegaskan bahwa kinerja penjualan tahun ini sangat bergantung pada kapasitas produksi Blade Battery 2.0. Di saat minat terhadap teknologi baterai baru dan Megawatt Flash Charging meningkat, pasokan yang tersedia belum cukup untuk memenuhi permintaan dengan cepat.

Kapasitas produksi belum seimbang dengan permintaan

China EV Home melaporkan bahwa kapasitas baterai saat ini masih menjadi faktor pembatas untuk memenuhi kebutuhan mobil listrik di China maupun pasar global. BYD memang menambah kapasitas produksi, tetapi ekspansi tersebut belum bisa langsung mengimbangi laju permintaan yang datang dari berbagai pasar.

Perusahaan menyebut tambahan kapasitas itu setara untuk mendukung produksi 20 ribu hingga 30 ribu kendaraan per bulan. Namun, peningkatan tersebut tetap memerlukan waktu karena proses manufaktur Blade Battery generasi kedua tidak bisa berjalan sama seperti lini baterai sebelumnya.

Blade Battery generasi kedua butuh proses yang lebih rumit

Wang menjelaskan bahwa Blade Battery generasi kedua memakai katoda komposit lithium manganese iron phosphate atau LMFP, serta anoda silikon-karbon. Kombinasi material tersebut membuat proses pembuatannya lebih kompleks dibandingkan baterai konvensional.

Karena itu, sejumlah lini produksi eksisting BYD harus menjalani peningkatan besar-besaran sebelum bisa beroperasi optimal. Kondisi ini menjelaskan mengapa pertumbuhan penjualan belum sepenuhnya diikuti oleh kenaikan pasokan baterai dalam waktu singkat.

Penjualan tetap tumbuh kuat di luar China

Meski dibatasi pasokan baterai, BYD tetap mencatat pertumbuhan penjualan yang solid. Pada Mei 2026, BYD secara akumulatif membukukan penjualan 376.990 unit kendaraan penumpang, naik 19,4 persen dibanding April dan meningkat 8,2 persen secara tahunan.

Pertumbuhan paling agresif datang dari pasar global. Penjualan kendaraan penumpang dan pikap BYD di luar China mencapai 160.177 unit pada Mei 2026, atau melonjak 80,7 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Ekspansi global ikut dorong kebutuhan infrastruktur

Lonjakan penjualan luar negeri membuat BYD ikut mempercepat pembangunan jaringan pengisian daya. Pada Mei tahun ini, stasiun pengisian cepat pertama BYD untuk pasar Eropa mulai beroperasi di Jerman.

BYD menargetkan pembangunan sekitar 3.000 infrastruktur charging cepat di seluruh Eropa hingga akhir 2026. Stasiun yang sudah aktif itu berada di 300 jaringan dealer BYD di Jerman, menunjukkan bahwa ekspansi perusahaan tidak hanya berfokus pada penjualan unit.

Target ekspor dan strategi lokalisasi

Dalam ekspansi internasionalnya, BYD menargetkan ekspor 1,6 juta kendaraan pada 2026. Wang juga menyampaikan optimisme bahwa angka tersebut masih bisa dilampaui seiring bertambahnya permintaan dan perluasan pasar.

Untuk menghadapi hambatan perdagangan global, BYD akan memperkuat strategi lokalisasi produksi di Brasil, Eropa, Thailand, dan India. Langkah ini menjadi bagian penting agar pertumbuhan tetap terjaga di tengah tekanan rantai pasok dan kebutuhan produksi yang semakin besar.

Wang menilai lima tahun ke depan akan menjadi periode pertumbuhan besar bagi BYD. Di saat yang sama, perusahaan masih membawa ambisi jangka panjang untuk menjadi produsen otomotif dengan skala terbesar di dunia pada 2030.

Berita Terbaru