Apple menargetkan pengiriman MacBook Neo hingga 10 juta unit setelah permintaan awalnya melampaui perkiraan perusahaan. Lonjakan itu terjadi karena stok peluncuran cepat habis di banyak pasar, sehingga produksi harus dinaikkan jauh dari rencana awal yang hanya berada di kisaran 5 juta sampai 6 juta unit.
Perubahan target ini menunjukkan bahwa MacBook Neo mendapat sambutan kuat bukan hanya dari pengguna lama Apple, tetapi juga dari pembeli baru yang baru pertama kali masuk ke ekosistem Mac. Di tengah harga laptop yang cenderung naik akibat tekanan biaya komponen, perangkat ini langsung menempati posisi menarik sebagai MacBook dengan harga paling rendah sejauh ini.
Permintaan melonjak sejak awal distribusi
Laporan Bisnis.com menyebut MacBook Neo mencatat penjualan yang sangat kuat pada fase awal penjualan di April. Respons pasar terhadap harga jualnya yang berada di kisaran Rp12 juta–Rp13 juta membuat perangkat ini cepat terserap, bahkan sebelum distribusi berjalan normal di banyak wilayah.
Tim Cook juga menyoroti tingginya minat konsumen terhadap produk tersebut. Ia mengatakan, “Kami mencatat pekan peluncuran terbaik yang pernah ada bagi pelanggan Mac pertama kali,” menurut laporan 9To5Mac.
Pernyataan itu penting karena memberi gambaran bahwa strategi harga Apple berhasil membuka pintu bagi konsumen yang sebelumnya belum tertarik membeli Mac. Dengan banderol yang lebih rendah dibanding lini Mac lainnya, MacBook Neo menjadi pilihan masuk yang lebih mudah dijangkau.
Produksi ikut disesuaikan untuk mengejar stok
Untuk merespons permintaan yang terus tinggi, Apple menaikkan target pengiriman global MacBook Neo secara agresif. Perusahaan kini menyiapkan volume hingga 10 juta unit selama tahun ini, hampir dua kali lipat dari proyeksi awal internal.
Berikut ringkasan perubahannya:
| Komponen | Data |
|---|---|
| Estimasi awal pengiriman | 5 juta–6 juta unit |
| Target baru pengiriman | 10 juta unit |
| Mitra perakitan | Foxconn dan Quanta |
| Pemicu kenaikan target | Permintaan pasar di atas perkiraan |
Foxconn dan Quanta, dua mitra perakitan utama Apple asal Taiwan, disebut ikut menyesuaikan kapasitas produksi. Langkah ini dilakukan agar stok bisa lebih cepat dipulihkan setelah fase awal penjualan langsung mengosongkan persediaan.
Harga agresif membuat MacBook Neo menonjol
MacBook Neo mendapat perhatian besar karena hadir di segmen entry-level yang biasanya sangat sensitif terhadap harga. Saat banyak produsen PC menaikkan banderol akibat tekanan komponen, Apple justru masuk dengan harga yang lebih kompetitif.
Posisi itu membuat MacBook Neo terlihat menarik bagi pelajar, pekerja pemula, dan konsumen yang selama ini menunda membeli laptop Apple. Dengan harga Rp12 juta–Rp13 juta, perangkat ini mengisi celah penting di pasar Mac dan memperluas jangkauan produk Apple ke kelompok pembeli yang lebih luas.
Di saat yang sama, pasar laptop sedang menghadapi kondisi yang tidak mudah. Harga banyak perangkat Windows dan Chromebook ikut terdorong naik, sehingga MacBook Neo tampil sebagai alternatif yang memberi akses lebih murah ke ekosistem Apple.
Stok masih ketat dan pengiriman belum pulih
MacBook Neo pertama kali diperkenalkan pada 4 Maret lalu dan mulai masuk ritel pada 11 Maret. Namun, sejak awal distribusi, stok yang tersedia langsung habis terjual sehingga jadwal pengiriman masih tertahan di sejumlah pasar.
Saat ini, situs resmi Apple masih menampilkan estimasi pengiriman antara 1 Mei hingga 8 Mei untuk semua warna serta dua pilihan penyimpanan, yakni 256GB dan 512GB. Kondisi itu memperlihatkan bahwa suplai belum sepenuhnya mengejar laju permintaan konsumen.
- Stok peluncuran habis dalam waktu singkat.
- Estimasi pengiriman masih mundur ke awal Mei.
- Permintaan tetap tinggi di berbagai pasar.
- Apple masih menyesuaikan kapasitas produksi global.
Kendala pasokan chip ikut memengaruhi jadwal
Laporan Economic Daily News menyebut salah satu hambatan utama ada pada pasokan chip A18 Pro. Chip tersebut dikabarkan merupakan hasil penyortiran, sehingga jumlahnya masih terbatas untuk produksi massal dalam skala besar.
Kondisi itu membuat Apple perlu mengambil langkah yang tidak sederhana. Perusahaan bisa menghidupkan kembali lini chip A18 Pro atau mempercepat transisi ke chip A19 Pro untuk menopang produksi berikutnya.
Jika pasokan komponen belum stabil, jadwal pengiriman berpotensi tetap mundur meski minat pasar masih tinggi. Dalam situasi seperti ini, keberhasilan Apple menjaga ketersediaan unit akan sangat menentukan seberapa jauh MacBook Neo bisa terus mempertahankan momentumnya di pasar laptop entry-level.
Source: teknologi.bisnis.com






