Pertamax Tertekan Harga Minyak Dunia, Penurunan Bertahap Bisa Berlanjut Sampai 2026

Author: Redaksi Android62

Harga Pertamax berpotensi kembali turun pada bulan depan seiring pelemahan harga minyak dunia yang mulai terasa dalam beberapa waktu terakhir. Sinyal itu menguat karena Pertamax sebagai BBM nonsubsidi sangat bergantung pada pergerakan harga minyak global.

Proyeksi penurunan ini tidak hanya berhenti pada bulan depan. Pakar ekonomi energi Universitas Padjadjaran, Yayan Satyaki, memperkirakan harga Pertamax bisa melandai secara bertahap hingga Desember 2026.

Acuan Harga yang Bergerak Turun

Yayan memproyeksikan harga Pertamax berada di level Rp16.250 per liter pada Juni, lalu turun ke kisaran Rp12.100–Rp13.500 per liter pada Desember 2026. Untuk Juli 2026, ia memperkirakan harga Pertamax turun ke Rp15.228 per liter.

Setelah itu, harga diproyeksikan kembali turun menjadi Rp14.557 per liter pada Agustus dan Rp14.112 per liter pada September. Tren penurunan disebut masih berlanjut pada Oktober ke Rp13.814 per liter, lalu Rp13.614 per liter pada November dan Rp13.479 per liter pada Desember.

Harga Minyak Global Jadi Penentu Utama

Pertamina Patra Niaga menyebut harga Jenis Bahan Bakar Umum, termasuk Pertamax Series, untuk bulan depan akan mengikuti dinamika harga minyak dunia. Direktur Perencanaan dan Pertumbuhan Bisnis Pertamina Patra Niaga, Joko Pranoto, mengatakan evaluasi harga dilakukan berdasarkan pergerakan harga pada bulan sebelumnya.

Dengan mekanisme itu, pelemahan harga minyak mentah memberi ruang bagi penyesuaian harga Pertamax ke bawah. Sebaliknya, jika harga minyak dunia kembali menguat, arah penyesuaian juga bisa berubah pada periode berikutnya.

Pergerakan pasar minyak memang menunjukkan koreksi yang cukup tajam. Harga minyak mentah Brent sempat menyentuh 117 dolar AS per barel pada April, lalu turun cepat ke kisaran 78 dolar AS per barel setelah muncul kerangka damai atas konflik AS-Iran yang sebelumnya direncanakan ditandatangani di Swiss.

ICP Mei Menguatkan Sinyal Pelemahan

Selain Brent, acuan penting lain yang memengaruhi harga BBM nonsubsidi adalah Indonesian Crude Price atau ICP. Harga rata-rata minyak mentah Indonesia pada Mei tercatat sebesar 106,56 dolar AS per barel, lebih rendah dibandingkan ICP April yang berada di level 117,31 dolar AS per barel.

Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian ESDM, Laode Sulaeman, menyatakan penurunan ICP Mei sejalan dengan melemahnya harga minyak mentah utama dunia, khususnya Dated Brent. Menurut dia, salah satu pemicu utamanya adalah meredanya ketegangan geopolitik yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran.

Laode juga menyebut sepanjang Mei pasar minyak global merespons sejumlah perkembangan yang mengindikasikan deeskalasi konflik di Timur Tengah. Sinyal itu penting karena pasar minyak sangat sensitif terhadap risiko gangguan pasokan dari kawasan tersebut.

Meski proses penyelesaian konflik belum mencapai titik temu, pasar tetap membaca adanya penurunan ketegangan. Kondisi itu ikut menekan harga minyak mentah utama dunia dan membuka ruang bagi pelemahan harga BBM nonsubsidi di dalam negeri.

Jalan Harga Masih Bisa Berubah

Meski proyeksi penurunan terlihat jelas, arah harga tetap bisa berubah jika tensi geopolitik kembali meningkat. Karena itu, peluang turunnya Pertamax bulan depan masih bergantung pada konsistensi tren pelemahan harga minyak dunia.

Pada saat yang sama, harga Pertamax juga tidak bergerak sendiri. Penurunan yang lebih dulu terlihat pada Dexlite dan Pertamina Dex disebut menjadi salah satu penanda bahwa ruang koreksi untuk BBM nonsubsidi masih terbuka.

Dengan pola bertahap seperti itu, penyesuaian harga bulan depan akan menjadi tanda awal apakah tren pelemahan benar-benar berlanjut sampai penghujung 2026. Bagi konsumen, arah pergerakan ini menjadi salah satu indikator paling penting untuk membaca biaya energi beberapa bulan ke depan.

Source: otodriver.com
Berita Terbaru