Pemerintah menyiapkan penambahan impor minyak mentah dan LPG dari Amerika Serikat melalui PT Pertamina (Persero) untuk menjaga pasokan energi dalam negeri tetap aman. Nilai pembelian migas dari negara itu diperkirakan mencapai US$ 15 miliar atau sekitar Rp 253,32 triliun, seiring dorongan percepatan pengadaan yang dianggap penting bagi ketahanan energi nasional.
Di sisi lain, pemerintah juga tetap membuka opsi pasokan dari negara lain agar kebutuhan domestik tidak bertumpu pada satu sumber. Salah satu yang masih disiapkan adalah impor 150 juta barel minyak dari Rusia untuk menopang ketersediaan energi hingga akhir tahun 2026.
Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral, Yuliot, menjelaskan bahwa Pertamina diminta mencari pasokan yang bisa tiba paling cepat di Indonesia. Karena itu, tim teknis Pertamina saat ini berada di Amerika Serikat untuk berbicara dengan sejumlah mitra potensial yang dinilai mampu memenuhi kebutuhan dalam waktu singkat.
Kecepatan pengiriman menjadi pertimbangan utama dalam pembahasan tersebut. Pemerintah ingin memastikan bahan baku kilang tetap tersedia dan pasokan gas untuk masyarakat tidak terganggu oleh persoalan suplai.
LPG dari Amerika Serikat sudah menjadi porsi besar
Data kementerian menunjukkan Amerika Serikat memang sudah menjadi pemasok utama LPG untuk Indonesia. Dari sekitar 7 juta ton LPG yang diimpor, sekitar 60 persen di antaranya berasal dari negara tersebut.
Yuliot menyampaikan kondisi itu menjadi salah satu alasan pemerintah mendorong tambahan pasokan dari Amerika Serikat. Ia juga menegaskan bahwa besaran tambahan impor masih dihitung agar sesuai dengan kebutuhan serta keseimbangan neraca energi.
“Kalau untuk LPG, total impor kita dari sekitar 7 juta ton yang kita impor itu kan sekitar 60% itu kan sudah dari Amerika,” ujar Yuliot.
Rincian volume tambahan untuk minyak mentah dan LPG masih dibahas oleh tim Pertamina. Pemerintah belum menetapkan angka final karena masih melihat jalur pengadaan yang paling memungkinkan dan paling cepat direalisasikan.
Diversifikasi pasokan tetap dijaga
Meski memperbesar pembelian dari Amerika Serikat, pemerintah menegaskan bahwa strategi energi nasional tidak akan bergantung pada satu negara saja. Diversifikasi pasokan tetap dijaga agar impor crude dan LPG bisa datang dari berbagai jalur yang dinilai efisien dan aman.
Pendekatan itu dipandang penting untuk menjaga keamanan pasokan sekaligus memberi ruang bagi pilihan pemasok yang lebih luas. Pemerintah mengarahkan Pertamina agar mencari perusahaan mana pun yang mampu memasok sesuai kebutuhan dan dalam waktu yang singkat.
Prinsip bebas aktif tetap jadi pegangan
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia sebelumnya menegaskan bahwa Indonesia tetap memegang prinsip politik bebas aktif dalam urusan ekonomi global. Prinsip itu juga berlaku dalam perdagangan energi, sehingga Indonesia bisa membeli dari berbagai negara sesuai kepentingan nasional.
Bahlil menyebut Indonesia dapat berbelanja dari banyak mitra, termasuk Rusia, Afrika, dan Nigeria. Namun, perjanjian dengan Amerika Serikat tetap dihormati karena sudah menjadi bagian dari kerja sama resmi yang ditandatangani.
Langkah penambahan impor dari Amerika Serikat memperlihatkan upaya pemerintah menjaga kebutuhan energi melalui kombinasi diplomasi dagang dan penguatan pasokan. Di saat yang sama, Pertamina masih merinci volume tambahan serta jalur pengadaan yang paling sesuai agar ketahanan energi nasional tetap terjaga.







