Perumahan Baru Diminta Punya Energi Sendiri, Elpiji Tak Lagi Jadi Andalan Penghuni

Dorongan agar perumahan di Jawa Tengah tidak lagi sepenuhnya bergantung pada pasokan gas elpiji mulai mengemuka dari level pembangunan hunian. Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin Maimoen menilai kawasan perumahan bisa dirancang sebagai lingkungan yang mandiri energi, sekaligus memberi nilai tambah bagi penghuninya.

Gagasan itu ia sampaikan saat membuka Rapat Kerja Daerah 2026 Himpunan Pengembang Permukiman dan Perumahan Rakyat (Himperra) Jateng di Semarang. Menurut Taj Yasin, pengembang perlu melihat pengelolaan energi bukan hanya sebagai pelengkap, tetapi sebagai bagian dari daya tarik utama sebuah kawasan hunian.

Salah satu arah yang ia dorong adalah pemanfaatan limbah rumah tangga untuk menghasilkan energi alternatif, terutama biogas. Ia juga menilai septic tank komunal dapat diolah menjadi sumber gas sehingga kawasan perumahan baru punya pasokan energi dari lingkungannya sendiri.

Pendekatan seperti itu dinilai selaras dengan kebutuhan pengembangan perumahan yang lebih berkelanjutan. Selain mengurangi ketergantungan pada sumber energi dari luar, model tersebut juga membuat pengelolaan limbah rumah tangga memberi manfaat langsung bagi penghuni.

Taj Yasin menilai potensi limbah rumah tangga cukup besar untuk dijadikan sumber energi. Karena itu, ia mendorong pengembang mulai mengintegrasikan pengolahan limbah sejak tahap perencanaan kawasan, bukan setelah perumahan berdiri.

Ia mencontohkan sejumlah praktik yang sudah berjalan di Jawa Tengah. Di Magelang, limbah industri tahu dimanfaatkan menjadi energi yang bisa melayani 100 rumah tanpa harus membeli gas, sedangkan di Boyolali kotoran sapi telah diolah warga menjadi biogas untuk kebutuhan sehari-hari, termasuk memasak.

Contoh tersebut, menurut Taj Yasin, menunjukkan bahwa konsep mandiri energi bukan sekadar wacana. Di beberapa tempat, pemanfaatan sumber daya lokal sudah terbukti membantu kebutuhan rumah tangga dan sekaligus menekan penggunaan energi dari luar.

Dari sisi pasar, konsep ini juga disebut punya daya jual tersendiri. Perumahan yang menawarkan hunian dengan kebutuhan gas elpiji yang lebih ringan akan terdengar menarik bagi calon pembeli, karena memberi efisiensi pada pengeluaran harian.

Taj Yasin juga melihat ada dampak yang lebih luas terhadap kebijakan energi. Gas elpiji masih bergantung pada impor, sehingga pengurangan konsumsi dinilai dapat membantu negara menghemat energi.

Karena itu, pengembang dinilai tidak hanya membangun rumah, tetapi juga bisa menawarkan efisiensi energi dan pengurangan beban kebutuhan sehari-hari bagi penghuni. Pola ini disebut dapat menjadi pembeda di tengah persaingan properti yang semakin ketat.

Di luar isu energi, Taj Yasin mengingatkan bahwa desain perumahan juga harus memperhitungkan risiko kebencanaan di Jawa Tengah. Ia menyoroti ancaman rob dan tanah gerak yang membuat kawasan hunian tidak cukup hanya mengandalkan beton.

Ia meminta pengembang di bawah Himperra memastikan setiap unit rumah memiliki sumur resapan dan lahan terbuka yang memadai. Unsur tersebut dianggap penting agar kawasan hunian lebih siap menghadapi persoalan lingkungan sekaligus kebencanaan.

Source: jateng.antaranews.com

Berita Terkait