Selat Hormuz kembali menjadi pusat perhatian setelah IRGC merilis video peluncuran rudal yang diklaim diarahkan ke kapal Angkatan Laut Amerika Serikat. Sorotan terbesar bukan hanya pada target yang disebut, melainkan pada pesan yang tertulis di badan rudal dan memberi lapisan simbolik pada aksi itu.
Tulisan paling menonjol berbunyi, “Dan Dia mengirimkan burung berbondong-bondong melawan mereka,” yang merujuk pada kisah Burung Ababil dalam Surah Al-Fiil di Al-Qur’an. Di bagian lain rudal itu juga tertulis, “Untuk mengenang para siswi Minab yang gugur,” sehingga serangan tersebut dipersepsikan membawa pesan balasan atas korban sipil.
Dua tulisan itu membuat peluncuran rudal dibaca lebih jauh dari sekadar operasi militer. IRGC tampak ingin menempatkan serangan tersebut sebagai gabungan antara simbol keagamaan dan penegasan dendam atas korban jiwa, terutama dari peristiwa yang dikaitkan dengan sekolah perempuan di Minab pada awal konflik.
Video yang dirilis tidak menjelaskan secara rinci kapan dan di mana rekaman itu dibuat. Meski begitu, kemunculannya berdekatan dengan pernyataan Markas Besar Khatam al-Anbiya Central Headquarters yang menyebut Iran telah menargetkan kapal militer AS di Selat Hormuz.
Serangan itu kemudian dipahami sebagai respons atas dugaan pelanggaran gencatan senjata oleh pihak AS. Salah satu pemicunya disebut berkaitan dengan aksi terhadap kapal tanker minyak Iran, yang memperpanjang tensi di kawasan yang sudah sensitif.
Balasan pun tidak berhenti di satu sisi. Militer AS dilaporkan menyerang sejumlah fasilitas strategis Iran, termasuk lokasi peluncuran rudal dan drone, pusat komando, serta instalasi intelijen dan pengawasan.
Di sisi lain, juru bicara militer Iran menyebut serangan tersebut juga mengenai wilayah sipil di pesisir. Area yang disebut antara lain Pulau Qeshm, Bandar Khamir, dan Sirik, yang menambah kekhawatiran atas meluasnya dampak konflik.
Rangkaian saling serang ini menunjukkan bahwa ketegangan belum bergerak menuju penurunan. Kedua pihak justru terus mengirim sinyal kekuatan di titik yang sangat penting bagi jalur pelayaran internasional.
Selat Hormuz pun kembali menempati posisi rawan dalam setiap eskalasi Iran dan Amerika Serikat. Jalur ini sangat strategis karena menjadi salah satu rute penting bagi energi dan perdagangan internasional, sehingga setiap gangguan di sana segera menyita perhatian.
Dampaknya tidak berhenti pada persoalan militer. Ketegangan di kawasan itu ikut memengaruhi stabilitas Timur Tengah secara lebih luas, sementara negara-negara yang bergantung pada jalur energi dan perdagangan internasional, termasuk di kawasan ASEAN, juga memantau perkembangannya dengan serius.
Di tengah situasi yang masih panas, Presiden AS Donald Trump menegaskan bahwa kesepakatan gencatan senjata antara kedua negara masih berlaku. Namun, pernyataan itu belum menghentikan bentrokan bersenjata yang masih terjadi dan membuat tekanan keamanan kawasan tetap tinggi.
Source: www.suara.com






