Pesawat Herzog Dipaksa Memutar Jauh, Turki Tolak Lintasan Menuju Astana

Turki kembali menutup jalur udara bagi pesawat yang membawa Presiden Israel Isaac Herzog, dan keputusan itu memaksa rute penerbangan menuju Astana berubah jauh dari jalur yang biasa dipakai. Akibatnya, perjalanan dari Tel Aviv disebut memakan waktu sekitar delapan jam karena pesawat harus menghindari wilayah udara Turki.

Perubahan ini menarik perhatian karena lintasan yang lazim digunakan biasanya melewati Turki, Armenia, dan Azerbaijan. Setelah akses dari Ankara tidak diberikan, pesawat Herzog harus mengambil jalur lain melalui Eropa dan Rusia, sehingga rute yang lebih pendek tidak lagi tersedia.

Rute bergeser karena penolakan Turki

Laporan portal berita penerbangan sipil HavasosyalMedya menyebut bahwa penolakan Turki menjadi penyebab utama berubahnya jalur penerbangan tersebut. Dalam situasi normal, perjalanan dari wilayah Israel ke Astana dapat ditempuh lewat rute yang lebih langsung dan tidak sepanjang alternatif baru yang kini dipilih.

Dampaknya bukan hanya pada jarak tempuh, tetapi juga pada makna politik di balik penerbangan itu. Jalur yang memanjang menunjukkan bahwa ketegangan antara Ankara dan Tel Aviv masih memberi pengaruh nyata, bahkan terhadap perjalanan resmi kepala negara.

Pembatasan yang diterapkan Turki bersifat spesifik

Turki sebelumnya telah menyatakan wilayah udaranya tertutup bagi pesawat yang membawa senjata dan delegasi resmi Israel. Namun kebijakan itu tidak berarti penutupan penuh, karena penerbangan sipil reguler dari negara ketiga tetap diperbolehkan melintas.

Sumber diplomatik di Ankara juga pernah menyebut bahwa maskapai Israel masih bisa transit melalui wilayah udara Turki. Artinya, pembatasan yang berlaku menyasar jenis penerbangan tertentu dan bukan seluruh operasi udara yang berkaitan dengan Israel.

Herzog sudah pernah mengalami penolakan serupa

Kasus terbaru ini bukan pertama kalinya Isaac Herzog terdampak kebijakan tersebut. Pada November 2024, Turki juga menolak izin bagi Herzog untuk melintasi wilayah udaranya saat hendak terbang ke COP29 di Azerbaijan.

Setelah penolakan itu, Herzog membatalkan perjalanan dengan alasan yang disebut sebagai “kekhawatiran keamanan”, menurut TRT World. Dalam insiden yang lebih baru, Herzog kemudian mengonfirmasi lewat unggahan di platform X bahwa dirinya telah mendarat di Astana.

Hubungan Ankara dan Tel Aviv masih membeku

Latar hubungan kedua negara ikut menjelaskan mengapa urusan lintasan udara menjadi begitu sensitif. Turki memutuskan hubungan diplomatik dengan Israel setelah dimulainya operasi militer di Gaza, dan sejak itu kontak disebut hanya berlangsung melalui dinas intelijen bila diperlukan.

Kondisi tersebut membuat keputusan soal penerbangan resmi Israel tidak lagi dipandang sebagai urusan teknis semata. Setiap izin atau penolakan lintasan udara ikut terbaca sebagai pesan politik yang mencerminkan jarak antara Ankara dan Tel Aviv.

Dalam konteks itu, penutupan langit Turki untuk pesawat Herzog memperlihatkan bahwa ketegangan regional masih berdampak langsung pada mobilitas pejabat tinggi Israel. Rute menuju Kazakhstan pun harus disusun ulang agar menghindari wilayah udara yang kini tidak dapat dilewati.

Source: www.viva.co.id

Android62
Redaksi Android62

Android62.com menghadirkan berita dari beragam sumber dengan penyajian unik, ringkas, dan informatif untuk pembaca modern.

Newsletter Text above the Email input field
Follow UsGoogle NewsFlipboard
Berita Terkait
Berita Terbaru
Populer