PHEV Jadi Pilihan Aman DFSK, Mobil Ini Tetap Jalan Saat Baterai Habis

Author: Redaksi Android62

DFSK menilai mobil listrik murni belum menjadi jawaban paling praktis untuk pasar Indonesia saat ini. Karena itu, merek di bawah Sokonindo Automobile tersebut memilih masuk lebih dulu ke segmen Plug-in Hybrid Electric Vehicle atau PHEV lewat E5 Plus.

Keputusan itu berangkat dari satu persoalan utama, yakni infrastruktur pengisian daya yang belum merata. DFSK melihat konsumen masih harus memikirkan lokasi SPKLU, ketersediaan, dan antrean sebelum benar-benar mengandalkan kendaraan berbasis baterai sepenuhnya.

Fleksibilitas menjadi alasan utama

Director of Sales Center Sokonindo Automobile, Cin Hok Rifin, menilai PHEV lebih cocok untuk kondisi saat ini karena menggabungkan baterai dan mesin pembakaran dalam. Menurut dia, pendekatan itu membuat pengguna tidak sepenuhnya bergantung pada pengisian daya eksternal.

Cin Hok menjelaskan, konsumen bisa mengatur sendiri kebiasaan pemakaian mobil tanpa harus menyesuaikan seluruh aktivitas dengan jadwal pengisian baterai. Ia mencontohkan situasi di kota besar ketika seseorang pulang kerja malam hari, baterai mobil sudah menipis, lalu SPKLU yang dicari masih antre.

Masih bisa melaju saat baterai habis

Dalam pandangan DFSK, kelebihan itu membuat PHEV lebih nyaman sebagai kendaraan transisi. Saat daya baterai habis, mobil tetap bisa berjalan memakai mesin bensin sehingga pengemudi tidak perlu panik mencari tempat pengisian.

Fleksibilitas ini juga dianggap penting untuk perjalanan jarak jauh. Cin Hok menyebut rute Jakarta-Lombok bahkan bisa ditempuh hingga 1.400 km, tanpa kekhawatiran berlebihan soal daya baterai di tengah perjalanan.

E5 Plus dibekali baterai 25 kWh dan diklaim mampu memberikan pengalaman berkendara layaknya mobil listrik murni untuk kebutuhan harian. DFSK menyebut mobil ini dapat dipakai sebagai EV untuk aktivitas dalam kota tanpa perlu selalu menyalakan mesin pembakaran dalam.

Jarak listrik murni mencapai 140 km

DFSK menyatakan E5 Plus mampu menempuh 140 km hanya dengan tenaga baterai. Jarak itu membuat mobil ini tetap relevan untuk penggunaan harian di perkotaan, terutama bagi pengguna yang ingin merasakan karakter kendaraan listrik tanpa harus sepenuhnya bergantung pada SPKLU.

Cin Hok juga menyinggung efisiensi energi yang menurutnya lebih baik dibanding hybrid biasa. Ia menyebut 1 liter bahan bakar dapat digunakan untuk 83 km, dan menegaskan PHEV memiliki sejumlah keunggulan yang sulit diabaikan saat ini.

Meski begitu, DFSK tidak menutup arah pengembangan ke kendaraan listrik murni. Perusahaan ini tetap akan bermain di segmen battery electric vehicle atau BEV dan membuka peluang menghadirkan mobil listrik baru di Indonesia.

Sikap tersebut menunjukkan DFSK belum mau bertaruh penuh pada BEV di pasar domestik. Di saat yang sama, mereka juga tidak ingin tertinggal dari arah elektrifikasi yang terus bergerak di Indonesia.

Source: www.cnnindonesia.com
Berita Terbaru