Perjalanan Piala Dunia menuju siaran modern dimulai dari langkah yang sangat terbatas. Turnamen 1954 di Swiss menjadi momen pertama ketika pertandingan Piala Dunia ditayangkan langsung melalui televisi.
Bagi penonton masa itu, pencapaian tersebut sudah besar meski jangkauannya belum luas. Siaran langsung hanya bisa dinikmati di sejumlah negara Eropa yang telah memiliki jaringan televisi, sementara jumlah pesawat televisi sendiri masih sedikit.
Teknologi televisi yang masih sederhana
Siaran pada dekade 1950-an masih berada jauh dari standar sekarang. Kamera yang digunakan terbatas dan semua tayangan masih tampil dalam format hitam putih.
Kualitas gambarnya pun belum mendekati tampilan masa kini, tetapi bagi masyarakat saat itu, melihat laga internasional secara langsung tetap terasa istimewa. Untuk pertama kalinya, sepak bola dari panggung dunia tidak hanya hadir lewat suara penyiar radio atau laporan surat kabar.
Sebelum 1954, penonton hanya mengandalkan kabar
Pada Piala Dunia 1930 di Uruguay, lalu edisi 1934 di Italia dan 1938 di Prancis, televisi belum menjadi media utama olahraga. Teknologi siaran saat itu masih berkembang dan belum digunakan secara luas untuk menayangkan pertandingan sepak bola.
Akibatnya, dokumentasi video juga sangat terbatas dibandingkan standar sekarang. Mereka yang tidak hadir di stadion hanya bisa membayangkan jalannya laga dari radio dan media cetak.
1966 membawa jangkauan lintas benua
Langkah besar berikutnya hadir pada Piala Dunia 1966 di Inggris. Turnamen itu menjadi siaran global yang menjangkau lebih banyak negara setelah teknologi satelit Telstar milik AT&T digunakan untuk mengirim sinyal televisi lintas benua secara real-time.
Sejak saat itu, televisi semakin mengukuhkan diri sebagai penghubung utama penggemar sepak bola dunia dengan ajang Piala Dunia. Dari situ, siaran turnamen tidak lagi berhenti di batas-batas regional.
Dari hitam putih ke tayangan modern
Perkembangan siaran Piala Dunia terus berlanjut setelah era 1950-an. Piala Dunia 1970 dikenal sebagai turnamen yang banyak dikaitkan dengan era siaran berwarna, dan edisi itu juga menjadi yang pertama disiarkan di Indonesia melalui TVRI.
Di Indonesia, rekaman Piala Dunia 1970 pertama kali dapat dinikmati lewat stasiun televisi tunggal milik pemerintah saat itu. Dua tahun kemudian, TVRI juga menyiarkan langsung final Piala Dunia 1974 dari Jerman dengan dukungan sponsor S.C. Johnson & Son bersama PT Unilever Indonesia.
Setelah itu, siaran Piala Dunia berkembang ke teknologi HD, 4K, HDR, hingga streaming internet. Dari tayangan hitam putih yang terbatas, Piala Dunia berubah menjadi tontonan global yang bisa dinikmati miliaran orang secara bersamaan.
