Pikun Bisa Dilawan Lewat Perubahan Molekuler Otak, Peneliti Temukan Cara Memulihkan Ingatan

Author: Redaksi Android62

Memori yang menurun ternyata tidak selalu harus diterima sebagai akibat usia. Penelitian terbaru menunjukkan bahwa ada proses molekuler tertentu di otak yang ikut menentukan apakah ingatan melemah atau masih bisa dipulihkan.

Temuan ini datang dari tim peneliti Virginia Tech yang menelusuri hubungan antara penuaan dan gangguan memori secara lebih spesifik. Mereka melihat bahwa perubahan pada jalur biologis tertentu dapat menjadi kunci untuk memahami demensia sekaligus membuka peluang terapi yang lebih tepat.

Fokus pada proses molekuler otak

Sorotan utama penelitian ini ada pada poliubikuitinasi K63, sebuah proses molekuler yang membantu mengatur perilaku protein di dalam sel otak. Ketika proses ini berjalan normal, neuron dapat berkomunikasi lebih baik dan pembentukan memori berlangsung lebih optimal.

Masalah muncul saat penuaan mengubah pola aktivitasnya. Di hipokampus, bagian otak yang berperan penting sebagai pusat memori, aktivitas proses ini meningkat, sedangkan di amigdala yang terkait dengan memori emosional justru menurun.

Ketidakseimbangan itu diduga ikut memicu gangguan daya ingat. Karena itu, penurunan ingatan tidak lagi dipandang hanya sebagai tanda bertambahnya usia, melainkan juga sebagai akibat dari kerusakan jalur molekuler yang sangat spesifik.

Memori yang turun masih berpeluang diperbaiki

Untuk melihat apakah perubahan tersebut bisa dibalik, para peneliti menggunakan teknologi penyuntingan gen seperti CRISPR. Pendekatan itu dipakai untuk mengatur ulang proses molekuler yang sebelumnya terganggu di dua area otak tadi.

Hasilnya menunjukkan bahwa penyesuaian tersebut mampu meningkatkan kinerja memori secara signifikan. Temuan ini memberi sinyal bahwa sebagian fungsi ingatan masih bisa diperbaiki jika intervensinya tepat sasaran.

Tim yang sama juga meneliti gen IGF2, yang memiliki peran dalam pembentukan memori. Fungsi gen ini menurun karena metilasi DNA, yaitu penambahan penanda kimia yang dapat menonaktifkan gen.

Dengan teknik CRISPR-dCas9, peneliti berhasil mengaktifkan kembali IGF2. Pada tikus berusia tua, aktivasi itu meningkatkan memori secara signifikan dan memperkuat dugaan bahwa pemulihan ingatan bisa dicapai lewat intervensi molekuler yang tepat.

Waktu intervensi menjadi faktor penting

Meski hasilnya menjanjikan, penelitian ini juga menunjukkan bahwa waktu pemberian intervensi tidak bisa diabaikan. Pada subjek paruh baya yang belum mengalami gangguan memori, efek aktivasi gen tidak terlihat signifikan.

Tim peneliti menilai perbaikan memori lebih mungkin muncul saat gen diaktifkan kembali ketika penurunan mulai terjadi. Artinya, tahap kondisi otak saat terapi diberikan ikut menentukan seberapa besar peluang pemulihan.

Timothy Jarome, profesor madya di Fakultas Ilmu Hewan, Pertanian dan Ilmu Hayati Virginia Tech, menilai perubahan molekuler seperti ini bisa dipelajari dan ditargetkan. Menurutnya, pemahaman yang lebih dalam di level tersebut dapat membantu membuka jalan untuk memahami penyebab demensia.

Temuan ini memperkuat pandangan bahwa pikun bukan semata-mata akibat usia. Di balik penurunan ingatan, ada proses biologis yang lebih rinci dan bisa ditelusuri, sehingga pendekatan pengobatan di masa depan berpeluang tidak hanya memperlambat penurunan, tetapi juga membantu memulihkan sebagian fungsi memori.

Source: www.cnbcindonesia.com
Berita Terbaru