Pipa Seamless Lokal Ini Tembus Asia Dan Timur Tengah, Bantu Kurangi Impor Migas

Produk pipa seamless buatan Indonesia mulai mendapat tempat di pasar luar negeri. PT Artas Energi Petrogas lewat Indonesia Seamless Tube (IST) disebut sudah menembus Asia hingga Timur Tengah, dengan kontribusi devisa negara mencapai Rp 15 triliun.

Kabar itu menjadi sorotan karena industri migas nasional selama ini masih dibayangi ketergantungan pada impor peralatan strategis. Di saat pasar global menuntut penguasaan teknologi dan kekuatan produksi, kemampuan lokal seperti ini menunjukkan bahwa industri dalam negeri tidak hanya bisa menjadi konsumen, tetapi juga pemain.

Produk lokal yang masuk rantai pasok migas

IST milik PT Artas Energi Petrogas beroperasi di Kawasan Industri Krakatau Steel, Cilegon. Produk ini disebut sudah digunakan dalam berbagai proyek Kontraktor Kontrak Kerja Sama atau KKKS, sehingga keberadaannya bukan sekadar untuk kebutuhan pabrik, tetapi juga telah masuk ke rantai pasok migas yang menuntut standar tinggi.

Perusahaan itu juga disebut sebagai satu-satunya produsen seamless tube di Indonesia. Nilai Tingkat Komponen Dalam Negeri atau TKDN yang dimiliki produk IST tercatat sebesar 46 persen, sehingga kapasitas produksi lokalnya ikut memberi sinyal bahwa industri penunjang migas nasional mulai punya pijakan yang lebih kuat.

Lolos standar yang dipakai di industri migas global

Daya saing produk ini tidak hanya bertumpu pada status sebagai produksi lokal. IST telah memenuhi standar API 5CT dan API 5L, dua acuan yang dikenal luas di industri migas global.

Pencapaian itu penting karena produk dalam negeri kerap dihadapkan pada keraguan soal kualitas saat bersaing dengan barang impor. Dalam kasus ini, PT Artas Energi Petrogas menunjukkan bahwa produk lokal bisa masuk ke proyek yang menuntut spesifikasi teknis ketat tanpa harus mengorbankan standar.

Dorongan agar Indonesia tidak hanya jadi pasar

Kunjungan kerja Ikatan Ahli Fasilitas Produksi Migas Indonesia atau IAFMI bersama Komunitas Migas Indonesia atau KMI ke fasilitas produksi tersebut ikut menegaskan arah yang ingin dibangun. Rombongan dipimpin Sekjen IAFMI Gede Pramona bersama jajaran pengurus, dengan kehadiran Chairman KMI S Herry Putranto.

Agenda itu menyoroti kebutuhan untuk memperkuat industri nasional agar Indonesia tidak terus berada di posisi sebagai pasar. Selama ini, sektor migas dinilai masih bertumpu pada model resource extraction, sementara penguasaan teknologi, kekuatan industri domestik, dan kemandirian komponen masih belum cukup solid.

Ekspor membuka ruang yang lebih luas

Selain melayani kebutuhan dalam negeri, produk PT Artas Energi Petrogas juga telah bergerak ke pasar Asia dan Timur Tengah. Aktivitas ekspor itu memperlihatkan bahwa kapasitas manufaktur penunjang migas Indonesia tidak berhenti pada substitusi impor.

Bagi industri nasional, ekspor menjadi tanda bahwa produk lokal dapat bersaing di wilayah yang lebih luas. Pada saat yang sama, kontribusi devisa Rp 15 triliun menunjukkan bahwa sektor ini punya nilai ekonomi yang nyata bagi negara.

Lima target untuk memperkuat ekosistem

IAFMI dan KMI menilai kolaborasi seperti ini perlu diarahkan ke sasaran yang lebih besar. Ada lima tujuan utama yang mereka dorong, yakni menurunkan impor peralatan migas, meningkatkan efisiensi cost recovery, memperkuat TKDN tanpa mengorbankan kualitas, melahirkan national champions, dan mengokohkan posisi Indonesia sebagai basis industri migas utama di Asia Tenggara.

Target itu menunjukkan bahwa isu migas tidak hanya soal produksi minyak dan gas. Ada pekerjaan besar lain yang menyangkut kemandirian teknologi, penguasaan industri, dan kemampuan membangun struktur pasok yang lebih tahan terhadap tekanan global.

Tantangan masih menunggu di belakang

Meski capaian PT Artas Energi Petrogas memberi harapan, tantangan industri migas nasional masih besar. Hambatan yang masih disebut antara lain tingginya impor komponen kritikal, rendahnya penguasaan teknologi dan riset pengembangan, kesenjangan kualitas sumber daya manusia, serta regulasi yang belum cukup kompetitif.

S Herry Putranto menilai PT Artas Energi sudah memiliki sumber daya dan pasar, tetapi industri nasional tetap memerlukan keberanian untuk membangun kapasitas sendiri. Dorongan dari Cilegon ini memperlihatkan bahwa lepas dari impor migas membutuhkan regulasi yang lebih berpihak, investasi teknologi yang serius, dan kesiapan SDM agar Indonesia benar-benar bisa menjadi produsen dan bukan sekadar pembeli.

Source: www.viva.co.id

Berita Terkait