Google Pixel Desktop memang sudah bisa dipakai, tetapi fungsi dasarnya masih belum terasa setara dengan Samsung DeX. Perbedaan paling jelas terlihat dari cara keduanya menangani kebutuhan sederhana saat ponsel disambungkan ke monitor besar, karena DeX sudah lebih lama matang dalam hal kontrol, tampilan, dan efisiensi kerja.
Salah satu pembeda yang paling langsung terasa ada pada navigasi. Di Samsung DeX, layar ponsel bisa berubah menjadi touchpad virtual sehingga kursor tetap bisa digerakkan tanpa mouse atau keyboard Bluetooth. Pada Pixel Desktop, fungsi seperti itu belum tersedia, sehingga pengguna lebih bergantung pada aksesori eksternal hanya untuk menjalankan desktop yang tampil di layar monitor.
Ruang kerja yang belum benar-benar terasa seperti desktop
Masalah lain muncul saat Pixel Desktop dipakai di layar lebar. Saat perangkat Google Pixel 10a tersambung ke Samsung Smart Monitor M8 berukuran 32 inci dengan resolusi 4K, teks dan elemen antarmuka terlihat buram.
Kondisi itu tidak hanya berkaitan dengan batas resolusi maksimum 1920 x 1080. Skala teksnya juga belum dianggap rapi, sehingga tampilan di layar besar masih kalah nyaman dibanding Samsung DeX yang sama-sama berangkat dari 1080p default tetapi tetap terlihat lebih tajam.
Opsi tampilan yang lebih sempit
Di sisi pengaturan visual, Pixel Desktop juga masih tertinggal. Pengguna hanya mendapat opsi terbatas untuk menaikkan scaling teks lewat menu Settings > Connected devices > Monitor, tetapi langkah tersebut belum cukup untuk membuat tampilannya mendekati kerapian DeX.
Samsung justru memberi fleksibilitas lebih besar melalui Good Lock. Dengan pengaturan itu, tampilan DeX bisa dinaikkan hingga 4K dan hasilnya terlihat lebih detail saat digunakan di monitor besar.
Antarmuka masih terlalu mirip ponsel
Cara Pixel Desktop memakai ruang layar juga memperlihatkan bahwa pendekatannya belum sepenuhnya desktop-sentris. Jam masih berada di kiri atas dan ikon status tetap di kanan atas, sehingga nuansanya sangat dekat dengan tampilan ponsel biasa.
Saat area status dibuka, yang muncul adalah drawer penuh ala Android karena notifikasi dan ikon status tampil bersamaan. Di monitor besar, pola seperti ini membuat banyak ruang layar tidak dimanfaatkan secara optimal, sementara pergerakan kursor ikut terasa lebih panjang.
Samsung DeX mengambil arah yang berbeda karena lebih menyesuaikan diri dengan kebutuhan kerja di layar besar. Saat menu status atau notifikasi dibuka, isi yang tampil lebih relevan untuk penggunaan desktop sehingga alurnya terasa lebih ringkas.
Kontrol dasar dan pintasan masih terbatas
Keterbatasan Pixel Desktop juga terasa pada bagian pengelolaan aplikasi. Keduanya memang membatasi jumlah aplikasi agar ponsel tidak terlalu terbebani, tetapi DeX masih memberi ruang menjalankan lima aplikasi sekaligus sebelum aplikasi keenam meminimalkan salah satu yang aktif.
Di Pixel Desktop, kendalanya bukan hanya pada jumlah aplikasi. Taskbar juga hanya bisa memuat maksimal enam ikon, sehingga pengguna lebih sering harus membuka app drawer untuk mencari aplikasi yang dibutuhkan.
Menu klik kanan pun belum memberi kendali seluas sistem desktop yang matang. Saat pengguna klik kanan di area latar belakang, Pixel Desktop tidak menampilkan opsi untuk mengganti wallpaper atau membuka pengaturan tampilan, sesuatu yang membuat pengalaman terasa lebih terbatas.
Samsung masih unggul dalam kematangan fitur
Perbandingan ini menunjukkan bahwa Google Pixel Desktop sebenarnya sudah menjadi langkah awal yang menarik. Namun, pada lima kebutuhan dasar yang paling sering dipakai di desktop—touchpad virtual, ketajaman tampilan, pilihan resolusi, pengelolaan ruang layar, dan pintasan kontrol—Samsung masih terlihat lebih siap.
Itulah sebabnya Pixel Desktop masih dipandang tertinggal saat dibandingkan langsung dengan DeX di monitor besar. Selama batasan-batasan dasar itu belum dibenahi, pengalaman yang dihadirkan Pixel Desktop masih akan terasa seperti antarmuka ponsel yang diperluas, bukan lingkungan kerja desktop yang sepenuhnya matang.
