Bayang-Bayang Sejarah Perang Dunia II Memecah Polandia dan Ukraina di Tengah Tekanan Rusia

Author: Redaksi Android62

Serangan Ukraina terhadap infrastruktur energi Rusia terus meluas, dan dampaknya kini terasa sampai Crimea yang diduduki Moskow. Otoritas setempat menangguhkan penjualan bensin untuk warga sipil setelah serangan semalam menewaskan empat orang dan melukai 28 lainnya, menurut kepala Crimea yang ditunjuk Kremlin.

Mulai saat itu, stasiun pengisian bahan bakar di semenanjung itu hanya boleh menjual bensin kepada lembaga pemerintah. Kondisi tersebut memperparah kelangkaan yang sebelumnya sudah terjadi, dan kini disebut sebagai krisis bahan bakar terburuk sejak aneksasi pada 2014.

Tekanan ekonomi dari serangan drone kian terasa

Ukraina dalam beberapa bulan terakhir meningkatkan serangan drone ke fasilitas energi di Rusia. Sejumlah target disebut berada jauh dari garis depan, termasuk depot minyak di Crimea dan fasilitas transportasi minyak di wilayah Krasnodar.

Volodymyr Zelenskyy menyebut operasi itu sebagai bagian dari “sanksi jarak jauh” terhadap infrastruktur energi Rusia. Ia juga mengatakan kekuatan jarak jauh Ukraina bekerja untuk perdamaian karena Rusia hanya memahami kekuatan.

Di Rusia, tekanan itu ikut merembet ke sektor bahan bakar domestik. Sejumlah stasiun bensin mulai menerapkan pembatasan bahan bakar bulan ini, sementara larangan ekspor bahan bakar sudah berlaku sejak April.

Energy Intelligence, firma riset energi yang berbasis di AS, sebelumnya menyebut sekitar sepertiga kapasitas penyulingan minyak Rusia telah berhenti beroperasi akibat serangan Ukraina. Moscow pun ikut merasakan dampaknya ketika otoritas penerbangan menutup empat bandara setelah gelombang drone berhasil dicegat.

Wali Kota Moskow Sergei Sobyanin mengatakan di Telegram bahwa 59 drone yang menuju ibu kota telah dihancurkan. Otoritas kemudian mengumumkan pada pukul 5.39 pagi bahwa bandara sudah dibuka kembali.

Polandia dan Ukraina kembali berselisih soal simbol sejarah

Di saat perang berlangsung dan serangan lintas wilayah semakin intens, hubungan Polandia dan Ukraina juga diguncang perdebatan sejarah Perang Dunia II. Presiden Polandia Karol Nawrocki mencabut Order of the White Eagle dari Zelenskyy setelah keputusan Kiev menamai sebuah unit tentara dengan nama Ukrainian Insurgent Army.

Langkah itu memicu reaksi keras. Tiga mantan presiden Ukraina serta sejumlah pejabat senior dilaporkan mengembalikan penghargaan negara mereka kepada Polandia.

Perdebatan tersebut berakar pada memori kelam masa perang, ketika kelompok nasionalis itu pernah melakukan pembantaian terhadap warga Polandia selama Perang Dunia II. Kebijakan baru Kiev dipandang menyentuh luka sejarah yang masih sensitif di Polandia.

Donald Tusk, yang memimpin koalisi pro-Eropa sejak 2023, menilai konflik politik semacam itu hanya akan merugikan kedua negara. Dalam unggahan di X, ia memperingatkan bahwa kesalahan strategis semacam ini akan berdampak pada bisnis, geopolitik, dan reputasi.

Upaya meredakan ketegangan belum menutup jurang lama

Zelenskyy berusaha menenangkan situasi melalui wawancara yang diunggah di X. Ia mengatakan Ukraina dan Polandia tidak bisa menjadi apa pun selain mitra dan sahabat, sambil memperingatkan bahwa pertarungan politik dapat berujung pada eskalasi yang sangat berbahaya.

Ia menambahkan bahwa para prajurit Ukraina memilih sendiri nama heroik untuk unit mereka. Namun sebagai presiden sekaligus panglima tertinggi, ia merasa harus mendukung keputusan itu.

Zelenskyy juga menekankan bahwa tanpa Ukraina, tidak ada yang akan mampu mempertahankan Polandia. Pernyataan itu menunjukkan betapa hubungan keamanan kedua negara tetap saling terkait di tengah perang yang masih berlangsung.

Perkembangan ini memperlihatkan dua tekanan yang berjalan bersamaan di Eropa Timur. Di satu sisi, Ukraina terus menekan mesin perang Rusia lewat serangan ke sektor energi, sementara di sisi lain, sengketa simbol sejarah justru membuka kembali ketegangan lama dengan Polandia.

Source: www.theguardian.com
Berita Terbaru