Polytron memilih jalur yang tidak biasa di tengah tekanan krisis memori global. Alih-alih sekadar menekan harga serendah mungkin, perusahaan ini justru menaruh perhatian pada keseimbangan antara performa, kualitas, dan keterjangkauan agar laptop barunya tetap relevan di pasar Indonesia.
Pendekatan itu muncul karena pasar kini jauh lebih selektif. Konsumen tidak lagi hanya melihat angka harga, tetapi juga menimbang seberapa lama perangkat bisa dipakai dan seberapa baik pengalaman yang ditawarkan.
Fokus pada kebutuhan pengguna
Head of Group Product Audio Video Polytron, Bambang Athung, menyampaikan bahwa perusahaan tidak ingin berhenti di spesifikasi paling rendah. Polytron lebih dulu membaca kebutuhan pengguna agar produk yang diluncurkan benar-benar sesuai dengan ekspektasi pasar.
Menurut Bambang, strategi utama perusahaan adalah menemukan kombinasi terbaik antara performa perangkat dan daya beli konsumen. Dengan cara itu, pengguna tetap mendapat pengalaman yang memuaskan tanpa harus membayar terlalu mahal.
Polytron juga menyesuaikan produk dengan karakter konsumen Indonesia. Targetnya jelas, yaitu menghadirkan laptop yang bisa dipakai untuk bekerja, belajar, dan menunjang produktivitas harian.
New Luxia jadi contoh arah baru
Arah tersebut terlihat pada peluncuran Polytron New Luxia di Jakarta. Untuk laptop ini, Polytron memilih AMD Ryzen 5 7000 Series sebagai prosesor utama.
Pilihan itu bukan tanpa alasan. Prosesor tersebut dinilai memberi keseimbangan yang tepat antara performa dan efisiensi biaya, sekaligus dikenal hemat daya untuk mendukung mobilitas pengguna laptop modern.
AMD Ryzen 5 7000 Series sendiri merupakan keluarga prosesor yang diperkenalkan pada 2023. Hingga sekarang, chip ini masih menarik di segmen entry level hingga menengah karena dianggap cukup mumpuni untuk berbagai kebutuhan komputasi.
Laptop dengan prosesor seperti ini umumnya dicari pelajar, mahasiswa, pekerja kantoran, dan pelaku usaha. Kelompok pengguna tersebut membutuhkan perangkat yang andal untuk menjalankan aplikasi produktivitas sehari-hari.
Tidak memilih jalan paling murah
Bambang juga mengungkap bahwa Polytron sebenarnya punya opsi memakai prosesor generasi yang lebih lama. Opsi itu memang berpotensi menekan harga jual perangkat menjadi lebih rendah.
Namun, perusahaan memilih tidak mengambil jalan tersebut karena khawatir pengalaman pengguna akan terdampak dalam jangka panjang. Polytron menilai konsumen membutuhkan perangkat yang tetap relevan dan masih nyaman dipakai untuk beberapa tahun ke depan.
Karena alasan itu, AMD Ryzen 5 7000 Series dinilai lebih tepat dibandingkan prosesor generasi lama seperti Ryzen 5 3000 Series yang masih ada di pasar. Keputusan ini menunjukkan bahwa Polytron tidak ingin menjadikan harga murah sebagai satu-satunya daya tarik.
Tekanan biaya masih membayangi
Meski sudah menyiapkan strategi produk, kondisi industri laptop belum sepenuhnya stabil. Krisis memori global masih menjadi ancaman yang dapat mendorong biaya produksi perangkat teknologi dalam beberapa tahun mendatang.
Saat ditanya soal kemungkinan harga laptop naik bila situasi pasar semakin sulit, Bambang tidak menutup peluang itu. Ia menyebut penyesuaian harga bisa saja terjadi jika kondisi industri memang menuntutnya.
Di saat yang sama, Polytron tetap berusaha menjaga agar harga produknya tetap menarik di mata konsumen. Perusahaan ingin mempertahankan keseimbangan antara harga yang kompetitif dan kualitas produk yang terjaga.
Pasar makin ketat, pasokan makin sempit
Strategi tersebut lahir di tengah persaingan pasar laptop Indonesia yang semakin padat. Konsumen kini punya banyak pilihan dari merek global maupun lokal, sehingga harga dan kualitas menjadi dua faktor utama dalam keputusan pembelian.
Tekanan industri teknologi global juga diperkirakan belum mereda. International Data Corporation atau IDC dalam laporan yang dirilis pada akhir 2025 memperkirakan kekurangan chip memori akan berlanjut hingga 2027.
Kondisi itu dipicu oleh lonjakan kebutuhan pusat data berbasis kecerdasan buatan atau artificial intelligence. Permintaan chip memori untuk mendukung AI tumbuh sangat cepat dan melampaui kapasitas pasokan yang tersedia.
Akibatnya, rantai pasok global menjadi tidak seimbang dan langsung menekan berbagai industri teknologi. Dua sektor yang disebut paling terdampak adalah smartphone dan personal computer karena keduanya sangat bergantung pada chip memori.
Di tengah situasi tersebut, Polytron mencoba menjaga posisi lewat produk yang tidak hanya murah, tetapi juga masih masuk akal untuk kebutuhan jangka panjang. Melalui New Luxia dengan AMD Ryzen 5 7000 Series, perusahaan ingin menunjukkan bahwa performa, kualitas, dan harga masih bisa berjalan bersama di pasar laptop Indonesia.
Source: www.gadgetdiva.id






