Yellow-eyed penguin kini menjadi salah satu satwa paling terdesak di Selandia Baru karena populasinya terus menyusut. Spesies ini masuk kategori Endangered, dengan jumlah yang diperkirakan hanya tersisa beberapa ribu ekor.
Ancaman terhadap burung ini datang dari banyak arah. Hilangnya habitat, predator introduksi seperti anjing dan kucing liar, pencemaran laut, serta perubahan iklim ikut menekan peluang hidupnya di alam liar.
Hidup di tempat yang jauh dari keramaian
Yellow-eyed penguin tidak memilih kawasan pantai yang ramai. Mereka lebih nyaman berada di pesisir tenggara Pulau Selatan Selandia Baru, termasuk beberapa pulau subantarktik seperti Auckland Islands dan Campbell Island.
Burung ini menyukai pantai berbatu yang dekat dengan semak lebat dan hutan pesisir. Lingkungan seperti itu memberi perlindungan alami, terutama saat mereka berkembang biak dan beristirahat dari gangguan luar.
Sifatnya yang pemalu juga membuat spesies ini makin sulit ditemui. Saat merasa terusik, yellow-eyed penguin cenderung menjauh atau bersembunyi di balik vegetasi pesisir, sehingga pengamatan harus dilakukan dengan jarak aman.
Ciri fisik yang mudah dikenali
Dari segi tampilan, yellow-eyed penguin punya ciri yang sangat khas. Matanya berwarna kuning terang, dengan pita kuning pucat di sekitar kepala yang membuatnya mudah dibedakan dari penguin lain.
Tubuhnya tergolong cukup besar, dengan tinggi sekitar 65-80 cm dan berat 5-8 kilogram, tergantung musim dan kondisi tubuh. Bulu abu-abu kebiruan mendominasi bagian tubuh, sementara dadanya berwarna putih pucat.
Paruhnya relatif panjang dan berwarna kecokelatan. Bentuk ini mendukung kebiasaannya mencari makan di laut lepas.
Mencari makan sendirian di perairan dingin
Berbeda dari banyak spesies penguin lain yang hidup berkoloni besar, yellow-eyed penguin justru lebih sering berburu sendirian. Mereka mencari makan di perairan dingin sekitar Selandia Baru.
Makanan utamanya terdiri dari ikan kecil, cumi-cumi, dan beberapa jenis krustasea. Pola hidup seperti ini membuat mereka sangat bergantung pada kondisi laut yang stabil dan ketersediaan mangsa yang memadai.
Musim berkembang biak yang rawan gangguan
Musim berkembang biak yellow-eyed penguin berlangsung antara Agustus hingga Maret. Saat itu, mereka membangun sarang tersembunyi di bawah semak atau akar pohon agar lebih aman dari predator dan cuaca buruk.
Betina biasanya menghasilkan dua telur, lalu induk jantan dan betina bekerja sama menjaga telur serta merawat anaknya. Masa inkubasinya berkisar 39 hingga 51 hari sebelum anak penguin cukup kuat untuk tumbuh lebih mandiri.
Meski perawatannya terbilang teratur, tingkat keberhasilan pembiakan tetap rendah. Gangguan predator, penyakit, dan perubahan lingkungan yang makin ekstrem ikut memengaruhi kelangsungan hidup anak-anaknya.
Menjadi fokus konservasi
Kombinasi antara habitat yang terpencil, sifat pemalu, dan jumlah yang terus turun membuat yellow-eyed penguin semakin mendapat perhatian. Berbagai organisasi konservasi di Selandia Baru melakukan perlindungan habitat dan pemantauan populasi secara rutin.
Wisata satwa liar juga mulai diatur lebih ketat agar tidak mengganggu perilaku alaminya. Upaya ini penting karena spesies tersebut sangat bergantung pada lingkungan pesisir yang aman untuk bertahan hidup.
Keberadaan yellow-eyed penguin sekaligus menunjukkan rapuhnya keseimbangan alam bagi satwa liar pesisir. Selama tekanan terhadap habitat dan sumber makanannya masih besar, masa depan penguin bermata kuning ini tetap berada dalam kondisi rentan.
