Prajogo Pangestu Kembali Kuasai Puncak Orang Terkaya Indonesia, Kekayaannya Tembus Rp 361,6 Triliun

Di antara nama-nama besar di daftar orang terkaya Indonesia, dua pemain dari bisnis pusat data ikut menandai perubahan peta kekayaan nasional. Otto Toto Sugiri berada di posisi ketujuh dengan kekayaan 8,4 miliar dollar AS, sementara Marina Budiman kembali masuk 10 besar di urutan kedelapan dengan kekayaan 6 miliar dollar AS.

Kehadiran mereka memperlihatkan bahwa kekuatan bisnis di Indonesia tidak lagi hanya bertumpu pada energi dan komoditas. Sektor digital, terutama infrastruktur pusat data, kini mulai mendapat tempat yang lebih kuat di barisan elite kekayaan.

Di puncak daftar, Prajogo Pangestu kembali menempati posisi nomor satu pada awal Mei 2026. Kekayaannya tercatat 20,9 miliar dollar AS atau sekitar Rp 361,6 triliun.

Forbes Real Time Billionaires per Sabtu (2/5/2026) menempatkan Prajogo di urutan teratas saat pergerakan harga komoditas dan dinamika pasar global masih memberi pengaruh besar. Posisi itu menegaskan bahwa sektor energi dan sumber daya alam tetap menjadi mesin utama pembentuk kekayaan di Indonesia.

Di belakang Prajogo, Low Tuck Kwong berada di posisi kedua dengan kekayaan 16,5 miliar dollar AS. Kekayaannya ditopang bisnis batu bara, yang masih punya pengaruh besar dalam jajaran orang kaya Indonesia.

Susunan di bagian atas daftar juga menunjukkan dominasi nama-nama mapan. R. Budi Hartono menempati urutan ketiga dengan total kekayaan 15,8 miliar dollar AS atau setara Rp 273,3 triliun, disusul Anthoni Salim di posisi keempat dengan kekayaan 11,9 miliar dollar AS.

Di posisi kelima ada Tahir dan keluarga dengan kekayaan 9,7 miliar dollar AS. Setelah itu, Sri Prakash Lohia berada di peringkat keenam dengan kekayaan 8,8 miliar dollar AS.

Urutan 10 besar kemudian dilengkapi oleh Lim Hariyanto Wijaya Sarwono di posisi kesembilan dengan kekayaan 5,3 miliar dollar AS. Kekayaannya berasal dari bisnis kelapa sawit dan nikel, dua sektor yang juga sensitif terhadap perubahan harga pasar.

Peringkat sepuluh besar ditutup Haryanto Tjiptodihardjo dari sektor manufaktur dengan kekayaan 5 miliar dollar AS. Kehadirannya memberi penanda bahwa industri pengolahan masih mampu bertahan di tengah daftar yang didominasi komoditas dan energi.

Komposisi terbaru ini memperlihatkan peta kekayaan yang semakin beragam. Energi dan batu bara masih kuat, tetapi bisnis digital serta manufaktur mulai mendapat ruang yang lebih nyata di tingkat teratas.

Berita Terkait