Premi minyak fisik dunia sedang tertekan tajam, meski gangguan di Selat Hormuz belum mereda. Para pembeli justru memilih menunggu kepastian politik, sehingga mereka enggan mengunci pembelian di harga tinggi.
Perubahan sikap itu membuat pasar fisik bergerak jauh lebih cepat daripada pasar berjangka. Premi untuk grade minyak Laut Utara, yang menjadi acuan Dated Brent, turun hingga 90 persen dalam sebulan dan kembali ke level sebelum perang pecah.
Kehati-hatian pembeli muncul di tengah harapan pasar terhadap kemungkinan kesepakatan antara Amerika Serikat dan Iran. Pedagang menilai banyak pihak takut membayar terlalu mahal sekarang, lalu melihat harga jatuh jika Selat Hormuz kembali terbuka.
Tekanan tersebut juga terasa di pasar spot. Kargo minyak mentah CPC dari Afrika Barat dan Mediterania untuk pengiriman segera bahkan diperdagangkan dengan diskon kecil terhadap nilai patokan, walau pasokan secara umum masih dianggap ketat.
Situasi ini menunjukkan harga fisik sudah kembali mendekati kondisi normal sebelum perang Iran menghilangkan lebih dari 10 persen pasokan minyak global. Ketegangan geopolitik belum lagi mampu mendorong pasar fisik ke level premium setinggi sebelumnya.
Neil Crosby, kepala riset di Sparta Commodities SA, menilai pasar minyak fisik belum sepenuhnya memasukkan ketatnya pasokan yang parah. Ia juga menyoroti pembeli di Asia yang bergantung pada impor dan memilih bertahan dengan pasokan minyak mentah minimal.
Di sisi hilir, kilang minyak ikut menyesuaikan diri dengan kondisi ini. Mereka menerapkan pengiriman tepat waktu dan menekan persediaan agar tetap efisien, sehingga permintaan fisik menjadi lebih hati-hati.
Saat stok dijaga minimal, dorongan untuk mengejar kargo mahal ikut berkurang. Pola itu membantu menjelaskan mengapa premi minyak fisik melemah walau jalur pengiriman di kawasan Teluk masih terganggu.
Pasar global juga mendapat penyangga dari pelepasan cadangan strategis dalam jumlah rekor oleh pemerintah. Langkah itu membantu meredam dampak penutupan jalur laut utama ketika pasokan dari Timur Tengah terganggu.
Selain itu, ekspor dari Amerika Serikat dan Brasil meningkat dan ikut menyeimbangkan pasar sementara konsumsi global menurun. Penurunan konsumsi terjadi ketika harga bahan bakar melonjak dan menekan minat beli di banyak negara.
Di pasar berjangka, arah pergerakan masih berbeda dengan pasar fisik. Harga Brent berjangka sempat melonjak di atas US$105 per barel pada Senin setelah Presiden AS Donald Trump menolak proposal terbaru Iran untuk mengakhiri konflik.







