Irak menghadapi tekanan besar pada ekspor minyak setelah produksinya turun lebih dari 50% menjadi sekitar 1,9 juta barel per hari pada Juni. Dalam situasi gangguan tanker di Selat Hormuz, Baghdad kini menyiapkan kembali jalur pipa lama menuju Suriah sebagai pilihan penyaluran minyak di luar Teluk Persia.
Data OPEC mencatat produksi Irak sebelumnya berada di kisaran 4,2 juta barel per hari pada Februari, sebelum AS dan Israel menyerang Iran. Penurunan tersebut memperlihatkan besarnya risiko bagi Irak yang selama ini sangat mengandalkan ekspor dari Basra.
Rute Lama Menuju Mediterania
Irak dan Suriah sepakat mengaktifkan kembali pipa minyak yang membentang dari Kirkuk di Irak utara ke pesisir Mediterania Suriah. Jalur ini telah lama berhenti beroperasi setelah mengalami kerusakan akibat invasi AS ke Irak pada 2003.
Badan Informasi Energi AS atau EIA mencatat kapasitas terpasang pipa tersebut dapat mencapai 700 ribu barel per hari. Jika kembali berfungsi, rute itu memberi Irak akses ekspor yang tidak sepenuhnya bergantung pada jalur laut Teluk Persia.
| Negara | Jalur Alternatif | Arah Ekspor | Kapasitas atau Target |
|---|---|---|---|
| Irak-Suriah | Kirkuk ke pesisir Mediterania | Melalui Suriah | 700 ribu barel per hari |
| Uni Emirat Arab | Pipa kedua ke Fujairah | Teluk Oman | Melipatgandakan kapasitas di luar Hormuz |
| Arab Saudi | Perluasan pipa ke Laut Merah | Laut Merah | Tambahan 2 juta barel per hari |
Kesepakatan pengaktifan pipa Irak-Suriah ditandatangani pada Jumat dalam pertemuan puncak Kamar Dagang di Washington. Pertemuan itu membahas investasi AS di Irak dan dipimpin Menteri Energi AS Chris Wright.
Penandatanganan dilakukan oleh CEO Basra Oil Company Bassem Abdul Karim Nasr dan CEO Syrian Petroleum Company Youssef Qablawi. Keterlibatan dua perusahaan minyak tersebut menandai dimulainya langkah pengaktifan kembali infrastruktur yang lama tidak digunakan.
Basra dan Risiko Selat Hormuz
Irak merupakan produsen minyak terbesar kedua di OPEC, tetapi sebagian besar kemampuan ekspornya terkonsentrasi di Basra. Ketika lalu lintas tanker di Selat Hormuz terganggu selama konflik AS-Iran, pilihan Irak untuk menyalurkan minyak ke pasar global menjadi jauh lebih terbatas.
Jalur Kirkuk menuju pesisir Mediterania menawarkan arah pengiriman yang berbeda karena tidak berakhir di kawasan Teluk Persia. Bagi Baghdad, keberadaan pipa ini dapat mengurangi konsentrasi risiko pada satu jalur laut utama.
Chris Wright mengatakan pengaktifan kembali pipa tersebut membuka peluang bagi perbaikan sektor energi Irak. Ia juga menyoroti kebutuhan negara itu untuk mengurangi ketergantungan pada negara-negara tetangga yang bermusuhan.
“Ada banyak peluang untuk mendorong perbaikan di Irak, meningkatkan produksi minyak, mengurangi ketergantungan pada negara-negara tetangga yang bermusuhan, serta menghadirkan kebebasan, kemakmuran, dan energi yang melimpah bagi bangsa Irak,” ujar Wright.
Jalur Darat Tidak Bebas Ancaman
Pengalihan ekspor melalui pipa tidak berarti risiko keamanan hilang sepenuhnya. Analis Rapidan Energy Bob McNally menilai ancaman justru dapat berpindah dari jalur perairan ke beragam fasilitas energi di darat.
Menurut McNally, fasilitas pemuatan, stasiun pemompaan, terminal, serta unit penyimpanan tetap dapat menjadi sasaran serangan. Artinya, keberhasilan pipa Irak-Suriah akan ditentukan bukan hanya oleh kapasitasnya, melainkan juga oleh keamanan seluruh rantai infrastrukturnya.
Sejumlah negara Teluk juga mengambil langkah serupa dengan menyiapkan rute ekspor di luar Hormuz. Uni Emirat Arab membangun pipa kedua menuju Fujairah, sedangkan Arab Saudi mempertimbangkan perluasan pipa menuju Laut Merah.
Rencana Arab Saudi mencakup tambahan kapasitas hingga 2 juta barel per hari. Perkembangan ini menunjukkan bahwa gangguan di Selat Hormuz mendorong negara-negara produsen mencari jalur ekspor yang lebih beragam.
Source: finance.detik.com






