Subang Jaya Medical Centre atau SJMC menempatkan jalur layanan yang lebih ringkas untuk pasien Indonesia yang ingin berobat ke Malaysia. Sejak tahap awal, pasien diarahkan untuk memulai konsultasi melalui International Patient Centre agar proses pencocokan dokter dan kebutuhan medis bisa berlangsung lebih cepat.
Langkah awalnya dibuat sederhana. Pasien cukup menghubungi pusat layanan itu lewat telepon atau pesan singkat, lalu mengirimkan latar belakang medis, hasil tes, laporan, atau hasil pencitraan seperti rontgen, MRI, dan CT.
Dari data itu, tim SJMC akan menyesuaikan pasien dengan dokter spesialis yang paling sesuai. Dalam sejumlah kasus, konsultasi awal bahkan bisa selesai hanya dalam hitungan jam.
Layanan yang dirancang untuk pasien lintas negara
Rumah sakit yang berada di bawah jaringan Asia OneHealthcare ini melayani pasien dari lebih dari 200 kewarganegaraan. Karena itu, alur pelayanan disusun agar tetap praktis bagi pasien internasional yang datang dengan kebutuhan berbeda-beda.
SJMC juga menyiapkan pendampingan yang tidak berhenti pada konsultasi medis. Pasien bisa mendapat bantuan pengurusan visa, pemesanan hotel, penjemputan bandara, hingga pendampingan selama masa perawatan di Malaysia.
Bryan Lin, Regional Chief Executive Officer Asia OneHealthcare sekaligus Chief Executive Officer SJMC dan ADMC, menyebut layanan tersebut dirancang dari awal untuk memudahkan perjalanan berobat pasien. Ia menggambarkan pendekatan itu sebagai layanan door to door, termasuk dalam urusan logistik dan permohonan visa.
Mengapa Malaysia tetap dilirik pasien Indonesia
Malaysia terus menjadi مقصد yang relevan bagi pasien Indonesia karena sejumlah alasan praktis. Lokasinya dekat, biaya dinilai kompetitif, dan kedekatan budaya serta bahasa membuat banyak pasien merasa lebih nyaman selama menjalani pemeriksaan maupun perawatan.
Bryan menjelaskan bahwa hubungan Indonesia dan Malaysia terasa akrab karena bahasa yang serupa. Situasi itu membantu pasien lebih tenang saat berinteraksi dengan tenaga medis dan staf rumah sakit.
Selain itu, SJMC mengandalkan reputasi serta pengakuan internasional untuk menjaga kepercayaan pasien. Kombinasi itu membuat Malaysia tetap kompetitif di tengah persaingan tujuan wisata kesehatan di kawasan Asia.
Permintaan wisata kesehatan ikut naik
Bryan menilai sektor wisata kesehatan Malaysia mengalami pertumbuhan signifikan setelah pandemi. Ia merujuk pada data badan statistik nasional melalui Malaysia Healthcare Travel Council yang menunjukkan kenaikan sekitar 21 persen pada 2023-2024.
Menurutnya, peningkatan kesadaran masyarakat terhadap kesehatan ikut memperkuat tren tersebut. Banyak orang kini lebih memperhatikan risiko penyakit dan mencari layanan medis yang cepat, nyaman, dan berkualitas.
Perkembangan teknologi juga memberi dorongan tambahan. Layanan seperti telemedicine dan pemantauan jarak jauh membuat konsultasi lintas negara menjadi lebih efisien dan lebih mudah dijangkau.
Dukungan pembayaran dan tindak lanjut
Untuk memudahkan pasien Indonesia, SJMC juga menjalin kerja sama dengan sejumlah perusahaan asuransi di Tanah Air. Kolaborasi ini memungkinkan pembayaran cashless sehingga pasien tidak perlu membawa uang tunai dalam jumlah besar.
Setelah pasien kembali ke Indonesia, tindak lanjut juga tetap diperhatikan. SJMC telah membangun kerja sama dengan rumah sakit dan dokter di Indonesia agar proses pemantauan lanjutan tidak terputus.
Di tengah meningkatnya minat terhadap medical tourism, pasien kini tidak hanya mencari perawatan medis. Mereka juga mencari layanan yang rapi, nyaman, dan mudah diikuti, dan SJMC mencoba menjawab kebutuhan itu lewat jalur berobat yang lebih sederhana bagi pasien Indonesia.
Source: www.medcom.id






