Protein Berlebih pada MPASI Bisa Picu Overweight, Menu Atlet Tak Bisa Ditiru

Porsi makan atlet profesional tidak dapat dijadikan patokan untuk bayi yang baru memasuki masa makanan pendamping ASI. Dokter spesialis gizi mengingatkan asupan kalori dan protein berlebihan dapat meningkatkan risiko overweight serta obesitas pada anak.

Protein yang terlalu dominan juga membuat ginjal bayi bekerja lebih keras untuk menyaring sisa metabolisme. Kondisi ini dapat mengganggu keseimbangan zat gizi lain yang tetap diperlukan dalam masa pertumbuhan.

Dokter spesialis gizi Johanes Chandrawinata menilai kebutuhan bayi harus disesuaikan dengan usia, kemampuan cerna, dan perkembangan makannya. Karena itu, orang tua tidak disarankan menyalin porsi maupun susunan menu atlet secara utuh.

“Asupan kalori dan protein berlebihan pada bayi tidak baik karena risiko overweight dan obesitas meningkat dengan tingginya asupan protein hewani dan protein total,” ujar Johanes kepada CNNIndonesia.com. Ia juga menekankan bahwa kebutuhan makan seorang pesepak bola berbeda jauh dengan anak yang sedang bertumbuh.

Keseimbangan Zat Gizi Lebih Penting

Menu tinggi protein, karbohidrat, dan lemak sehat dapat dirancang untuk menunjang aktivitas fisik berat seorang atlet. Namun, bayi tidak memiliki kebutuhan energi yang sama sehingga porsi besar tidak otomatis menjadi pilihan yang sehat.

Ketika protein diberikan terlalu banyak, ruang bagi zat gizi lain dapat berkurang. Anak tetap memerlukan karbohidrat sebagai sumber energi, lemak sehat untuk perkembangan otak, serta zat besi yang mendukung pertumbuhan.

Prinsip utama pemberian MPASI bukan mengejar protein sebanyak mungkin. Orang tua perlu memastikan makanan yang diberikan bervariasi dan mencukupi kebutuhan gizi bayi secara seimbang.

Gurauan tentang menjadikan pola makan Erling Haaland sebagai inspirasi MPASI memang ramai diperbincangkan di media sosial. Meski demikian, pola makan atlet profesional dibentuk untuk kebutuhan fisiologis yang sangat berbeda dengan bayi.

Tekstur Makanan Perlu Dinaikkan Bertahap

MPASI diberikan kepada bayi mulai usia enam bulan untuk melengkapi zat gizi yang tidak lagi cukup dipenuhi hanya melalui ASI atau susu formula. Pada tahap ini, sistem pencernaan bayi masih berkembang sehingga bentuk makanan perlu disesuaikan.

Usia BayiTekstur MakananContoh Bentuk
6-8 bulanLumatPuree atau bubur kental
9-11 bulanLebih padat bertahapCincang halus, cincang kasar, atau makanan yang dapat dipegang
12-23 bulanMakanan keluargaPotongan yang sesuai

Tahapan tekstur membantu bayi beradaptasi dengan makanan yang semakin beragam. Kemampuan mengolah makanan perlu diperhatikan sebelum orang tua menaikkan tekstur maupun jumlah porsi.

Orang tua masih dapat mengambil sisi positif dari pola hidup atlet, seperti memilih makanan alami, memperbanyak buah dan sayur, serta menjaga waktu tidur. Penerapannya tetap harus menyesuaikan kebutuhan tiap anak, bukan mengikuti pola makan orang dewasa.

Asupan Protein Bayi sebaiknya dipenuhi sesuai kebutuhan tubuh dan bukan berdasarkan porsi orang lain. MPASI yang tepat berfokus pada variasi bahan makanan, tekstur sesuai usia, serta kecukupan energi dan zat gizi yang seimbang.

Source: www.cnnindonesia.com
Berita Terkait