Protes Serbia Makin Meluas, Ribuan Warga Kraljevo Bawa Beban Kemarahan ke Jalan

Author: Redaksi Android62

Ribuan warga turun ke jalan di Kraljevo, Serbia tengah, untuk menentang pemerintah Presiden Aleksandar Vučić. Mereka berkumpul di alun-alun pusat, Square of the Serbian Fighter, sambil membawa slogan “The students are winning!”.

Aksi itu menunjukkan gelombang protes di Serbia masih bertahan dan terus mendapat dukungan warga. Di Kraljevo, demonstrasi juga dikaitkan dengan Vidovdan atau St Vitus Day, sehingga memberi bobot historis pada mobilisasi massa tersebut.

Dorongan protes yang belum padam

Kemarahan publik berakar dari tragedi robohnya atap stasiun kereta di Novi Sad pada November 2024 yang menewaskan 16 orang. Peristiwa itu memicu kecaman atas dugaan korupsi dan ketidakmampuan pihak berwenang.

Dari sana, gelombang penolakan meluas lewat pendudukan universitas oleh mahasiswa dan staf pengajar yang berlangsung hampir setahun. Sejak itu, warga dari berbagai wilayah ikut bergabung dan menuntut pemilihan umum lebih awal selama sekitar setahun.

Makna politik dan sejarah di Kraljevo

Kota Kraljevo berada sekitar 160 kilometer di selatan Beograd. Pemilihan lokasi itu membuat unjuk rasa tidak hanya menjadi tekanan politik, tetapi juga penegasan simbolik atas isu yang dianggap lebih besar dari sekadar pergantian kekuasaan.

Vidovdan memegang tempat penting dalam ingatan nasional Serbia. Pada 28 Juni 1389, pasukan Utsmaniyah mengalahkan tentara Kristen yang dipimpin Serbia di Kosovo Polje, peristiwa yang kemudian dipandang sebagai salah satu tahap penting ekspansi Ottoman ke Balkan abad pertengahan.

Suara dari Kosovo ikut terdengar

Sejumlah warga Serbia dari Kosovo ikut berbicara di depan massa dan menyampaikan keluhan mereka. Mereka menilai korupsi serta ketidakmampuan pemerintah di Beograd telah memperburuk keadaan yang sudah sulit mereka hadapi.

Keikutsertaan mereka menegaskan bahwa ketegangan politik di ibu kota turut berdampak pada komunitas Serbia di luar pusat kekuasaan. Bagi kelompok ini, protes di Kraljevo menjadi ruang untuk menyalurkan frustrasi sekaligus menunjukkan bahwa keresahan terhadap pemerintah pusat masih meluas.

Berita Terbaru