Kabar rencana Joko Widodo masuk ke jajaran PSI langsung memunculkan pembacaan politik yang berlawanan. Dari PDIP, langkah itu dinilai tidak otomatis membuat PSI lebih kuat secara elektoral.
Juru Bicara PDIP Guntur Romli menyebut pengaruh Jokowi tetap punya batas, bahkan bila posisinya di partai berubah. Ia merujuk pada pengalaman saat Jokowi masih menjabat presiden, ketika PSI juga belum berhasil menembus parlemen.
Pandangan itu membuat PDIP menilai perpindahan jabatan politik tidak selalu sejalan dengan kenaikan suara. Menurut Guntur, logika paling sederhana justru menunjukkan bahwa bila saat Jokowi masih di puncak kekuasaan PSI belum masuk parlemen, situasi sekarang tidak akan banyak berbeda.
Guntur juga menyinggung wacana penetapan Jokowi sebagai Ketua Dewan Pembina PSI dari sisi simbolik partai. Ia menyebut PSI seolah telah dilego oleh Jeffrie Geovanie yang sebelumnya memegang posisi tersebut.
Dalam penjelasannya, Guntur mengaitkan hal itu dengan citra PSI sebagai partai terbuka atau partai Tbk. Ia menilai label itu terasa semakin kuat karena, menurut dia, siapa pun bisa masuk ke PSI.
Di sisi lain, PSI memberi sinyal bahwa kabar tersebut memang sudah berada di tahap akhir. Ketua DPP PSI Bidang Politik Bestari Barus membenarkan bahwa Jokowi akan menjadi Ketua Dewan Pembina partai itu.
Bestari mengatakan pengumuman resmi tinggal menunggu waktu dan keputusan Ketua Umum Kaesang Pangarep. Ia juga menegaskan bahwa posisi Jokowi di PSI sudah jelas sejak kongres di Solo pada Juli 2025.
Menurut Bestari, Jokowi telah menyampaikan dukungan kepada PSI dalam forum itu. Karena itu, isu peran Jokowi di PSI disebut bukan hal baru, melainkan kelanjutan dari sikap yang sudah ditunjukkan sebelumnya.
Perbedaan sikap PDIP dan PSI menunjukkan dua cara baca terhadap tokoh yang sama. PDIP melihat jabatan baru Jokowi belum tentu menambah daya dorong suara, sedangkan PSI menempatkannya sebagai penguatan dari dukungan yang sudah terbuka sejak kongres.
Sorotan pun bergeser ke pertanyaan yang lebih praktis, yakni apakah nama besar Jokowi benar-benar bisa mengerek elektabilitas PSI. Bagi PDIP, jawaban atas pertanyaan itu tidak sesederhana pergantian jabatan di struktur partai.
Source: www.cnnindonesia.com






