PSS Sleman memasuki laga kontra PSIS Semarang dengan beban yang jauh lebih besar daripada sekadar perebutan tiga poin. Posisi mereka di puncak klasemen Liga Championship memang masih aman secara sementara, tetapi peluang promosi ke BRI Super League musim depan belum sepenuhnya terkunci.
Super Elang Jawa mengoleksi 53 poin, sama dengan Persipura Jayapura, sementara Barito Putera masih mengintai dengan 50 poin. Artinya, hasil di Stadion Maguwoharjo pada Minggu malam tidak berdiri sendiri, karena nasib PSS juga bergantung pada laga lain yang dimainkan para pesaing promosi.
Promosi belum selesai untuk PSS
Kemenangan atas PSIS tidak otomatis membuat PSS bisa langsung bernapas lega. Mereka tetap harus menunggu hasil Persipura Jayapura saat menjamu Persiku Kudus dan Barito Putera ketika menghadapi Persipal Palu pada hari yang sama.
Situasi itu membuat tekanan di kubu PSS berlapis. Satu hasil yang tidak sesuai harapan bisa membuka jalan bagi tim lain untuk menjaga persaingan promosi tetap hidup, sehingga tiga poin di kandang menjadi target yang sangat krusial.
Di hadapan publik sendiri, PSS tentu ingin menuntaskan pekerjaan tanpa bergantung pada tim lain. Jika kemenangan berhasil diraih, mereka tidak perlu lagi menghitung hasil pertandingan pesaing untuk menjaga asa naik kasta.
PSIS datang dengan posisi berbeda
Di sisi lain, PSIS Semarang melangkah ke laga ini tanpa tekanan klasemen. Status mereka sudah aman di Liga Championship, sehingga hasil pertandingan tidak lagi menentukan nasib mereka di papan klasemen.
Kondisi tersebut justru bisa membuat Laskar Mahesa Jenar tampil lebih lepas. Manajemen baru PSIS bahkan menegaskan tim akan tetap bermain sportif dan memburu kemenangan saat bertamu ke markas PSS.
Chief Operating Officer PSIS Semarang, Fariz Yulinar, juga menyampaikan adanya bonus khusus bila tim mampu menaklukkan PSS di kandang lawan. Ia menegaskan bahwa timnya akan tampil penuh dan berjuang maksimal dalam pertandingan ini.
“Tidak ada istilah kalah. Saya selalu berprinsip harus menang di setiap pertandingan, termasuk saat menghadapi PSS Sleman,” ujar Fariz. Ia juga menambahkan bahwa PSIS akan turun dengan skuad penuh dan tetap fight demi hasil terbaik.
Bayang-bayang luka lama belum hilang
Pertemuan PSS Sleman dan PSIS Semarang bukan sekadar soal klasemen. Laga ini kembali mengingatkan publik pada peristiwa 26 Oktober 2014 yang sampai kini masih disebut sebagai salah satu noda hitam sepak bola nasional.
Kala itu, kedua tim terseret dalam skandal yang dikenal luas sebagai “sepak bola gajah”. Mereka bertemu di babak 8 besar Divisi Utama di Stadion Sasana Krida AAU, dan pertandingan berakhir dengan aksi gol bunuh diri yang dilakukan secara sengaja.
Aksi itu muncul menjelang akhir laga ketika kedua tim berusaha menghindari pertemuan dengan Pusamania Borneo FC di semifinal. Gol bunuh diri dari gelandang PSS Agus Setiawan memicu balasan dari pemain PSIS seperti Fadli Manan dan Komaedy, hingga total lima gol bunuh diri tercipta dalam waktu singkat.
Peristiwa tersebut kemudian berujung pada sanksi berat dari PSSI dan FIFA bagi para pelaku. Hingga sekarang, kejadian itu masih melekat kuat dalam sejarah pertemuan kedua tim dan ikut membentuk tensi setiap kali PSS dan PSIS kembali bertemu.
Tekanan dan sportivitas di Maguwoharjo
Dengan latar seperti itu, duel di Stadion Maguwoharjo membawa dua kepentingan besar sekaligus. PSS mengejar promosi, sementara PSIS datang dengan misi menjaga kehormatan serta menguji konsistensi permainan mereka.
Bagi PSS, dukungan suporter di kandang bisa menjadi modal penting. Namun, dukungan itu juga datang bersama tuntutan besar agar tim tetap fokus sejak menit awal dan tidak terpeleset di laga yang terasa seperti penentuan.
Pertandingan ini pada akhirnya bukan hanya soal tiga poin. PSS Sleman dan PSIS Semarang sama-sama membawa sejarah panjang, beban berbeda, dan sorotan besar ke satu malam yang menentukan arah perjalanan mereka masing-masing.
Source: mediaindonesia.com