Orbital Data Center Elon Musk, Janji Energi Nyaris Tak Terbatas tapi Risikonya Besar

Rencana membangun pusat data di orbit mulai bergerak dari gagasan futuristis menjadi strategi bisnis yang serius. SpaceX pada 30 Januari mengajukan ke Federal Communications Commission AS proposal untuk membangun sistem pusat data orbital dengan konstelasi hingga satu juta satelit bertenaga surya.

Dalam dokumen itu, pemindahan infrastruktur komputasi ke luar angkasa disebut sebagai “only logical solution”. Dorongan utamanya adalah kebutuhan komputasi AI yang terus naik, sementara energi, lahan, dan pendinginan di darat kian terbatas.

Alasan orbit dianggap menjanjikan

Di luar Bumi, panel surya dapat menerima cahaya matahari yang tidak terputus dan tidak terfilter. Di darat, efisiensi panel surya disebut hanya sekitar 30% jika memperhitungkan cuaca dan jam terang.

Pendinginan juga menjadi daya tarik besar. Pusat data di Bumi menghabiskan biaya tinggi untuk pendingin udara dan sistem liquid cooling, sedangkan ruang hampa dengan suhu minus 270 derajat Celsius menawarkan potensi pendinginan yang menarik, meski pembuangan panas tetap harus dilakukan lewat radiasi.

Kecepatan koneksi ikut masuk dalam hitungan. Konstelasi satelit berpotensi memangkas latensi karena dapat menyediakan jalur komunikasi dan layanan cloud antarbenua yang lebih langsung dibanding jaringan serat optik tradisional.

Biaya, perawatan, dan radiasi masih jadi penghalang

Di balik janji itu, orbit tetap bukan tempat yang mudah untuk infrastruktur komputasi. Biaya dan kompleksitas meluncurkan perangkat keras ke luar angkasa masih dinilai terlalu mahal, sekalipun SpaceX mengandalkan roket reusable.

Perawatan juga menjadi persoalan besar karena perangkat di orbit sulit dijangkau untuk servis dan pembaruan. Paparan radiasi kosmik serta kondisi ekstrem membuat perangkat keras tidak sekuat sistem yang beroperasi di darat.

Permintaan datang dari dua arah

Daniel Thorpe, kepala riset pusat data di Jones Lang LaSalle, menilai permintaan datang dari dua pendorong yang berbeda. Yang pertama adalah keterbatasan jangka panjang di darat, terutama energi dan ketersediaan lahan, saat kebutuhan komputasi AI terus meningkat.

Pendorong kedua lebih dekat dengan kebutuhan saat ini. Aktivitas luar angkasa yang makin padat, termasuk satelit pengamatan yang mengumpulkan terabyte data mentah per hari, menciptakan kemacetan data di orbit.

Mengirim data mentah ke Bumi untuk diproses dinilai lambat dan mahal. Karena itu, pemrosesan langsung di luar angkasa mulai dipandang sebagai opsi yang lebih efisien untuk beban kerja tertentu.

Pasar besar, tetapi kelayakan ekonominya belum pasti

GlobalData memperkirakan pasar enterprise data centre dan hosting global tumbuh menjadi $188.2bn pada 2029, dengan CAGR 10.9% dari 2024 ke 2029. Di saat yang sama, pasar colocation diperkirakan tumbuh cepat dan menyumbang 47% dari total pasar hosting pada 2029.

Namun, pertanyaan soal kelayakan ekonomi pusat data orbital masih terbuka. Axiom Space dan Starcloud termasuk pemain awal yang mencoba masuk ke pasar ini dengan pendekatan yang lebih spesifik.

Dalam white paper berjudul “Why we should train AI in space”, Starcloud menyebut energi surya orbital bisa menjadi lebih hemat biaya dibanding listrik di Bumi jika biaya peluncuran dan deployment terus turun. Mereka memperkirakan potensi penghematan $138m untuk klaster 40 MW selama 10 tahun.

Bukan pengganti penuh pusat data di darat

Thorpe menegaskan bahwa pusat data orbit tidak harus diposisikan sebagai pengganti total pusat data darat. Menurutnya, kebutuhan tradisional tetap akan ada, dan banyak aplikasi masih cocok berjalan di infrastruktur terrestrial yang lebih umum.

Orbital data centres justru lebih mungkin dipakai untuk use case khusus. Area seperti life sciences dan healthcare disebut berpotensi mendapat dampak besar karena membutuhkan pemrosesan spesialis, bukan sekadar komputasi massal.

Jason Aspiotis dari Axiom Space juga melihat adopsi akan berjalan bertahap. Ia menyebut fase awal kemungkinan menyasar pengguna militer, sipil, sains, dan komersial yang membutuhkan analitik hampir real time dari data luar angkasa, dengan rentang 2026-2030.

Sovereignty data bisa menentukan arah pasar

Isabel Al-Dhahir, principal analyst di GlobalData, menilai isu digital sovereignty akan makin penting. Ia menyoroti bahwa pengguna akan ingin tahu yurisdiksi mana yang mengatur data mereka ketika data disimpan dan diproses di orbit.

Masalahnya, tidak ada negara yang memiliki ruang angkasa, sehingga rezim hukum untuk data orbital berpotensi menjadi wilayah abu-abu yang rumit. Sovereign cloud memang dirancang untuk meyakinkan bisnis bahwa data mereka tunduk pada hukum yurisdiksi tertentu, tetapi pusat data orbital dapat mengganggu kepastian itu.

Aspiotis memperkirakan lompatan yang lebih luas baru mungkin terjadi dari 2035 ke depan, saat layanan peluncuran makin komoditis dan ekonomi unit mulai masuk akal. Pada tahap itu, layanan cloud dan AI orbital bisa merambah kebutuhan darat yang lebih luas.

Android62
Redaksi Android62

Android62.com menghadirkan berita dari beragam sumber dengan penyajian unik, ringkas, dan informatif untuk pembaca modern.

Newsletter Text above the Email input field
Follow UsGoogle NewsFlipboard
Berita Terkait
Berita Terbaru
Populer