Kontak singkat dengan Lonomia obliqua dapat berujung pada gangguan pembekuan darah yang serius, bahkan pendarahan hebat jika tidak segera ditangani. Ulat kecil asal Brasil ini menjadi perhatian karena bahayanya tidak datang dari gigitan, melainkan dari duri halus bercabang yang menutupi tubuhnya.
Bentuk tubuhnya memang mudah mengecoh. Warnanya cokelat kehitaman dan tubuhnya memanjang sehingga kerap tampak seperti bagian dari batang pohon, apalagi saat diam menempel di permukaan kayu.
Bahaya tersembunyi di balik kamuflase
Penampilannya yang menyerupai batang pohon membuat Lonomia obliqua sulit dikenali. Kondisi itu justru memperbesar risiko karena manusia bisa menyentuhnya tanpa sadar saat berada di batang atau ranting pohon.
Permukaan tubuh ulat ini dipenuhi duri halus bercabang seperti ranting kecil. Saat tersentuh, ujung duri dapat patah dan melepaskan racun ke kulit, lalu memicu reaksi yang pada awalnya tidak selalu terasa berat.
Paparan racunnya bisa menimbulkan perih, kemerahan, dan bengkak pada area kulit yang terkena. Gejala awal seperti ini sering dianggap iritasi biasa, padahal racunnya bekerja pada sistem pembekuan darah.
Dampak yang tidak boleh diremehkan
Dalam kondisi tertentu, gangguan pembekuan darah akibat racun ini dapat berkembang menjadi pendarahan di berbagai bagian tubuh meski tidak ada luka yang jelas. Jika terlambat ditangani, kondisi tersebut dapat berakhir pada pendarahan hebat, kerusakan organ, hingga kematian.
Kontak dengan ulat ini juga dikenal dapat memicu lonomisme, istilah untuk menggambarkan gangguan kesehatan berat akibat racun dari genus Lonomia. Kondisi ini terutama berkaitan dengan masalah serius pada proses pembekuan darah.
Bahaya tersebut sering luput karena tanda-tanda awalnya tampak ringan. Padahal, perkembangan gejala bisa berlangsung cepat dan berdampak luas pada tubuh.
Tidak lagi hanya di hutan
Di alam, Lonomia obliqua hidup di hutan dan menempel pada batang pohon. Namun, deforestasi dan alih fungsi lahan mendorongnya mendekat ke area yang masih memiliki pohon inang.
Akibatnya, koloni ulat ini dapat muncul di kebun, ladang, hingga sekitar permukiman warga. Situasi itu meningkatkan peluang terjadinya kontak tak sengaja, terutama saat seseorang menyentuh batang pohon atau tanaman yang ternyata menjadi tempat ulat berkamuflase.
Risikonya juga meningkat karena ulat ini sering hidup berkelompok. Satu kali sentuh bisa melibatkan banyak individu sekaligus, sehingga paparan menjadi lebih besar.
Kasusnya tercatat luas dan jadi perhatian medis
Jurnal Toxins mencatat 42.264 kasus akibat ulat ini di Brasil sejak 2007 sampai 2017. Dari jumlah tersebut, 248 kasus masuk kategori berat.
Di sisi lain, racun Lonomia obliqua juga menarik minat peneliti karena mengandung berbagai molekul unik yang memengaruhi pembekuan darah dan proses peradangan. Efek tersebut sedang dipelajari lebih lanjut untuk memahami penyakit tertentu dan membuka jalan bagi pengembangan obat baru.
Potensi yang sedang dikaji mencakup terapi gangguan pembekuan darah, penyakit inflamasi, hingga kemungkinan mendukung regenerasi sel.
Source: www.idntimes.com






