Ragdoll Lebih Besar, Himalaya Ternyata Lebih Menuntut Perawatan Bulu

Kucing Himalaya dan Ragdoll sama-sama menarik perhatian karena berbulu panjang, bermata biru, dan terlihat ramah sebagai hewan peliharaan keluarga. Namun, di balik kemiripan itu, keduanya menyimpan perbedaan yang cukup besar dalam ukuran tubuh, karakter bulu, perilaku, dan kebutuhan perawatan.

Perbedaan paling mudah terlihat justru ada pada tubuhnya. Ragdoll cenderung lebih besar, dengan tinggi rata-rata sekitar 25,4 cm dan berat 6,8–9,1 kg, sedangkan Himalaya memiliki tinggi rata-rata sekitar 20 cm dan berat 3,6–5,4 kg.

Bulu dan perawatan menjadi pembeda yang paling terasa

Himalaya memiliki bulu panjang yang lembut, halus, dan lebih tebal karena lapisan bulu gandanya. Kondisi ini membuat bulunya lebih lebat dan lebih sering rontok, sehingga perlu disisir setiap hari agar tidak menggumpal.

Ragdoll juga berbulu lembut, tetapi teksturnya cenderung lebih halus dan kerap diumpamakan seperti bulu kelinci. Bulunya tetap tebal, namun tidak sepanjang dan setebal Himalaya karena tidak memiliki lapisan bulu ganda, sehingga perawatannya relatif lebih ringan dan cukup disisir 2–3 kali seminggu.

Asal ras dan sejarahnya tidak sama

Cat Fancier Association atau CFA mencatat Himalaya dan Ragdoll sebagai dua jenis kucing yang berbeda. Menurut CFA, Himalaya adalah kucing ras murni yang merupakan variasi dari persia dan lahir dari perkawinan silang kucing persia dengan kucing siam.

Ragdoll berada di jalur yang berbeda karena CFA menyebutnya sebagai ras berbeda yang berasal dari kucing domestik. Perkembangannya dimulai dari pekerjaan Ann Baker pada tahun 1960, ketika ia menyilangkan Josephine, kucing domestik berbulu panjang dengan warna colorpoint yang dikenal santai saat digendong.

Karakter sama-sama ramah, tetapi cara berinteraksinya berbeda

Kedua ras ini dikenal sosial, suka bermain, dan umumnya mudah akur dengan hewan lain. Keduanya juga membutuhkan perhatian dan tidak cocok dibiarkan sendirian terlalu lama.

Meski begitu, Himalaya dikenal lebih vokal dan sering mengeong untuk menyampaikan kebutuhan. Ragdoll cenderung lebih pendiam dan biasanya baru bersuara saat menghadapi kondisi berbahaya atau situasi ekstrem.

Risiko kesehatan perlu jadi bahan pertimbangan

Himalaya memiliki wajah datar yang berkaitan dengan gangguan saluran pernapasan, sindrom obstruksi brachycephalic, serta masalah mata seperti sekuestrum kornea okular. Ras ini juga rentan terhadap penyakit ginjal polikistik, batu ginjal atau kalkulus urin, dan hernia diafragma peritoneioperikardinal.

Ragdoll juga memiliki sejumlah risiko kesehatan, termasuk masalah jantung, batu ginjal, penyumbatan saluran kemih, serta infeksi virus peritonitis infeksius kucing yang bisa mengancam jiwa. Karena itu, calon pemelihara perlu memahami bahwa tampilan mirip tidak selalu berarti kebutuhan perawatan dan pengawasan kesehatannya sama.

Dalam hal ketahanan saat ditinggal, Himalaya disebut lebih bisa bertahan dibandingkan Ragdoll. Meski begitu, kehadiran hewan pendamping lain tetap bisa menjadi pertimbangan untuk keduanya agar kebutuhan sosialnya tetap terpenuhi.

Dengan memahami perbedaan ukuran, bulu, perilaku, dan kesehatan sejak awal, calon pemelihara bisa memilih ras yang paling sesuai dengan rutinitas dan kemampuan perawatan di rumah.

Source: www.idntimes.com

Berita Terkait