Kunci gaya hidup sehat orang Jepang ternyata tidak selalu lahir dari kebiasaan yang rumit. Tiga hal yang paling sering terlihat justru sederhana: makan secukupnya, rutin bergerak dengan jalan kaki, dan tidak melewatkan sarapan.
Kebiasaan itu ikut menjelaskan mengapa Jepang konsisten berada di jajaran atas negara dengan harapan hidup tinggi. Merujuk Worldometers, Jepang masuk lima besar negara dengan harapan hidup tertinggi pada 2026 dengan angka 85,15.
Salah satu prinsip yang paling dikenal adalah hara hachi bu, yaitu berhenti makan saat sudah sekitar 80 persen kenyang. Pola ini membuat tubuh tidak terdorong makan berlebihan dan membantu menjaga berat badan tetap sehat.
Dalam praktik sehari-hari, kebiasaan tersebut juga didukung cara makan yang lebih terkontrol. Piring kecil dan kebiasaan mencicipi sedikit dari setiap hidangan membantu seseorang lebih sadar terhadap jumlah makanan yang masuk.
Makan terlalu banyak tidak hanya membuat porsi harian membengkak. Kebiasaan itu disebut dapat memperlambat sistem pencernaan, mempercepat oksidasi, dan dalam jangka panjang dikaitkan dengan percepatan penuaan.
Di sisi lain, sarapan tetap diperlakukan sebagai bagian penting dari hari. Di Jepang, asagohan bukan sekadar pengisi perut, melainkan fondasi awal yang disusun dengan lebih seimbang.
Menu sarapan ala Jepang umumnya terdiri dari nasi, sup, protein, dan sayuran. Susunan ini memberi asupan nutrisi sejak pagi agar tubuh memulai hari dengan lebih lengkap.
Perhatian terhadap protein di pagi hari juga cukup besar. Vanessa Imus, MS., RDN., owner Integrated Nutrition for Weight Loss di Bothel, mengatakan kepada Real Simple bahwa mengabaikan atau mengurangi protein saat sarapan dapat menyulitkan tubuh memenuhi kebutuhan harian secara keseluruhan.
Dr. Melinda Steele, MD., DipABLM., juga menyarankan protein pagi sebaiknya ditemani serat, vitamin, dan lemak sehat. Ia menilai protein yang tinggi lemak jenuh atau tidak mengandung serat bukan pilihan terbaik untuk sarapan.
Pilihan menu pagi yang mendukung pola itu sebenarnya mudah ditemukan. Telur, greek yogurt, keju cottage, bacon, tahu, tempe, kacang hitam, lentil, buncis, hingga oat dengan tambahan bubuk protein bisa masuk ke dalam daftar sarapan.
Selain soal makanan, aktivitas fisik harian juga memegang peran besar. Banyak warga Jepang terbiasa berjalan kaki sebagai bagian dari rutinitas, dan sebagian orang dapat menempuh hingga 10 ribu langkah dalam sehari.
Jalan kaki yang dilakukan secara teratur memberi manfaat nyata bagi tubuh. Spesialis penyakit dalam dr. Indra Wijaya, MKes., SpPD-KEMD., FINASIM., FACP., menjelaskan kepada detikcom bahwa kebiasaan ini dapat menguatkan fungsi jantung dan memperlancar peredaran darah.
Ia juga menyebut jalan kaki berkontribusi menurunkan risiko sindrom metabolik, hipertensi, dan serangan jantung. Manfaat lain yang ikut dirasakan adalah meningkatnya mobilitas serta fleksibilitas sendi kaki.
Jika dilihat sebagai satu rangkaian, tiga kebiasaan ini menunjukkan pola yang konsisten. Sarapan yang seimbang, porsi makan yang terjaga, dan rutinitas jalan kaki menjadi bagian dari gaya hidup yang terus menopang kualitas hidup masyarakat Jepang.
Source: www.beautynesia.id






