Data terbaru mencatat 427 personel Amerika Serikat mengalami luka sejak operasi militer AS dan Israel terhadap Iran dimulai pada 28 Februari. Di tengah angka kumulatif itu, laporan mengenai puluhan korban dalam serangan di Yordania memicu pertanyaan tentang keterbukaan informasi Pentagon.
Kasus di Yordania menjadi perhatian karena rincian jumlah dan tingkat keparahan cedera tidak disampaikan kepada publik. Laporan tersebut juga menyebut sejumlah helikopter militer AS mengalami kerusakan akibat serangan yang dikaitkan dengan Iran.
Angka Korban Konflik
Data yang tersedia memperlihatkan dampak besar konflik AS-Iran terhadap personel militer Amerika Serikat. Namun, angka publik hanya menggambarkan total korban dan tidak menjelaskan insiden yang menyebabkan setiap cedera.
| Data Korban | Jumlah | Keterangan |
|---|---|---|
| Personel AS tewas | 17 orang | Sejak operasi dimulai pada 28 Februari |
| Personel AS terluka | 427 orang | Data kumulatif terbaru selama konflik |
Jumlah 17 personel tewas tersebut belum memasukkan korban meninggal pada akhir pekan lalu. Perbedaan antara data agregat dan rincian kejadian di lapangan kemudian menjadi pokok perdebatan mengenai transparansi militer AS.
Menurut laporan Medcom.id, Iran disebut telah melancarkan tiga serangan terhadap tentara AS di Yordania sebelum insiden pada 17 Juli. Rangkaian serangan itu dilaporkan menyebabkan puluhan personel cedera, tetapi Departemen Pertahanan AS tidak menguraikan kasus-kasus tersebut secara terbuka.
Insiden pada 17 Juli
Serangan pada Jumat, 17 Juli, dilaporkan menewaskan dua prajurit AS dan membuat seorang personel lain dinyatakan hilang. Insiden ini terjadi setelah sejumlah serangan sebelumnya terhadap pangkalan atau personel AS di kawasan Yordania.
Informasi tentang kerusakan helikopter dan korban luka memperluas perhatian terhadap Serangan di Yordania. Rincian mengenai jenis cedera maupun jumlah personel yang kembali bertugas tidak dipublikasikan secara khusus.
Seorang pejabat militer AS menyatakan CENTCOM tidak berkewajiban mengumumkan setiap kasus cedera personel. Pertimbangan itu terutama diterapkan terhadap personel yang diperkirakan dapat kembali menjalankan tugas dalam waktu singkat.
Alasan Keamanan Operasional
Pihak militer menilai pengungkapan detail serangan dapat menimbulkan risiko operasional. Informasi tersebut dikhawatirkan membantu Iran memetakan sasaran potensial untuk serangan rudal balistik atau drone terhadap pangkalan AS di Timur Tengah.
Di sisi lain, CENTCOM sebelumnya menekankan bahwa serangan udara terhadap fasilitas militer Iran dilakukan sebagai respons atas gangguan terhadap kapal komersial di Selat Hormuz. Pernyataan itu tidak menyinggung serangan terhadap pangkalan AS, termasuk insiden yang terjadi di Yordania.
Pentagon membantah tudingan bahwa institusi itu menyembunyikan atau memanipulasi data korban. Juru bicara Pentagon Sean Parnell menyebut tudingan tersebut sebagai “fabrikasi yang dimaksudkan untuk semakin menyusahkan rakyat Amerika setelah gugurnya tiga anggota layanan”.
Parnell mengatakan Pentagon merujuk pada Defense Casualty Analysis System yang diperbarui secara berkala. Akan tetapi, data publik dalam sistem itu hanya menyajikan angka agregat tanpa perincian korban berdasarkan lokasi atau serangan tertentu.
Pentagon menilai angka mentah tanpa konteks dapat menimbulkan kesimpulan keliru. Meski demikian, laporan mengenai puluhan korban luka di Yordania tetap memperkuat tuntutan agar informasi tentang dampak operasi militer disampaikan dengan lebih jelas kepada publik.
