Regulator Diminta Lebih Ketat, Pusat Data Orbit Dinilai Bisa Mengganggu Teleskop Bumi

Author: Redaksi Android62

Rencana pusat data di orbit memicu kekhawatiran serius di kalangan ilmuwan karena dinilai bisa mengganggu pengamatan teleskop berbasis darat. Ancaman itu tidak hanya datang dari jumlah satelit yang makin padat, tetapi juga dari efek cahaya pantulan dan jejak melintas di langit malam.

Para peneliti menilai gangguan tersebut berpotensi menekan kualitas observasi secara global, termasuk di lokasi yang selama ini dianggap ideal untuk astronomi. Observatorium di Gurun Atacama, Antarktika, hingga wilayah terpencil lain tetap bisa terdampak karena satelit mengorbit seluruh Bumi.

Gangguan yang tidak bisa dihindari dari permukaan Bumi

Berbeda dengan polusi cahaya dari kota yang masih bisa diatasi dengan memilih lokasi observatorium yang jauh dari permukiman, gangguan satelit tidak mengenal batas geografis. Itu membuat teleskop di tempat paling gelap sekalipun tetap berisiko melihat langit yang lebih terang dari kondisi normal.

Peneliti juga menjelaskan bahwa satelit mengganggu pengamatan melalui dua jalur utama. Permukaan satelit memantulkan sinar Matahari dan membuat objek langit yang redup lebih sulit diamati, sementara lintasan satelit dapat meninggalkan garis terang yang merusak citra astronomi.

Efek pada data dan biaya observasi

Gangguan berupa satellite streaks dapat membuat sebagian data ilmiah kurang akurat, bahkan tidak bisa dipakai. Simulasi tim European Southern Observatory atau ESO menunjukkan bahwa langit yang makin terang juga memaksa teleskop memakai waktu pencahayaan lebih lama.

Kondisi itu berdampak pada efisiensi observasi, biaya operasional, dan jumlah penelitian yang bisa dilakukan. Karena itu, penurunan kualitas langit malam dinilai langsung mengancam kemampuan teleskop modern membaca objek langit yang sangat redup.

Pusat data orbit dan risiko skala besar

Perhatian ilmuwan kini tertuju pada gagasan pusat data di orbit yang disebut akan memakai satelit sebagai infrastruktur komputasi untuk kebutuhan cloud dan kecerdasan buatan. Desain satelit untuk proyek ini diklaim telah dioptimalkan agar pantulan cahayanya lebih kecil dibanding satelit konvensional.

Meski begitu, risiko tetap dinilai besar jika peluncurannya mencapai skala sangat besar. Proposal yang beredar bahkan menyebut peluang peluncuran hingga jutaan satelit dalam jangka panjang, sehingga dampak cahaya bisa menumpuk walau tiap satelit dibuat lebih redup.

Observatorium darat masih penting

Teleskop berbasis darat masih memiliki sejumlah keunggulan dibanding teleskop luar angkasa. Fasilitas ini biasanya memiliki cermin lebih besar, biaya operasional lebih rendah, dan kemampuan pengamatan yang dapat berlangsung lama.

Karena itu, komunitas astronomi menilai penurunan kualitas langit malam akan memberi dampak besar bagi perkembangan astronomi. Jika jumlah satelit aktif terus bertambah hingga melampaui sekitar 100.000 unit, observatorium di Bumi bisa menghadapi hambatan besar dari cahaya pantulan dan jejak satelit.

Seruan regulasi yang lebih ketat

Komunitas astronomi internasional meminta regulator melakukan evaluasi menyeluruh sebelum menyetujui proyek besar di orbit. Mereka menilai ruang angkasa adalah sumber daya bersama yang dampaknya dirasakan secara global.

Di saat yang sama, para peneliti juga menyoroti proposal konstelasi satelit lain yang berpotensi memperburuk situasi. Salah satunya adalah rencana peluncuran puluhan ribu satelit pemantul cahaya Matahari, yang menurut simulasi ESO dapat menimbulkan polusi cahaya jauh lebih besar daripada konstelasi satelit komunikasi biasa.

Saat ini diperkirakan ada sekitar 14.000 satelit yang mengorbit Bumi. Jumlah itu masih jauh dari ambang yang dikhawatirkan dapat melumpuhkan astronomi berbasis darat, tetapi para ilmuwan menegaskan langkah mitigasi dan regulasi harus disiapkan sejak awal.

Source: www.medcom.id
Berita Terbaru