Rencana Pusat Data Luar Angkasa Picu Kekhawatiran Baru, Orbit Bumi Dinilai Makin Rapuh

Rencana membangun pusat data di luar angkasa memantik penolakan dari kalangan ilmuwan dan pegiat lingkungan karena dinilai dapat menambah tekanan pada orbit Bumi tanpa pengawasan yang memadai. Kekhawatiran itu menguat seiring meningkatnya permohonan lisensi satelit pusat data ke orbit rendah Bumi yang diajukan ke FCC.

Di tengah lonjakan rencana tersebut, perhatian terbesar tertuju pada proposal SpaceX yang mengajukan izin untuk meluncurkan hingga 1 juta satelit. Kritik utama muncul karena permohonan itu disebut lolos tanpa kewajiban analisis dampak lingkungan, baik untuk tiap satelit maupun untuk efek akumulasinya.

IsuData UtamaKekhawatiran
Permohonan SpaceXHingga 1 juta satelitTidak diwajibkan analisis dampak lingkungan
Kondisi orbit saat iniSekitar 15.000 satelit aktif dan 46,000 objek terlacakRisiko kepadatan orbit makin tinggi
Proyeksi Starlink58.000 satelit aktifPopulasi objek buatan di orbit berpotensi melonjak

Koalisi organisasi lingkungan yang diwakili Earthjustice mendesak Komisi Komunikasi Federal Amerika Serikat atau FCC untuk menilai dampak lingkungan secara menyeluruh sebelum memberi izin peluncuran. Mereka menilai proyek sebesar itu tidak layak diproses tanpa kajian yang mempertimbangkan dampak jangka panjang di ruang angkasa dan di Bumi.

Tim Whitehouse, Direktur Eksekutif Public Employees for Environmental Responsibility, menyebut kebijakan semacam itu tidak sejalan dengan prinsip keselamatan global. Ia menilai polusi, puing-puing, dan ancaman terhadap satwa liar harus dihitung sebelum proyek dilisensikan.

“Mengizinkan satu juta pusat data mengorbit tanpa tinjauan lingkungan bukan hanya tidak bertanggung jawab, tetapi juga tindakan yang ceroboh,” ujar Tim Whitehouse dalam pernyataan resmi. Ia menambahkan bahwa risiko terhadap atmosfer, puing-puing, dan satwa liar tidak bisa diabaikan.

Orbit yang Semakin Padat

Para ahli memperingatkan bahwa penambahan besar-besaran satelit bisa memperburuk kepadatan objek buatan di orbit Bumi. Situasi itu dikhawatirkan memicu tabrakan antarsatelit yang menghasilkan jutaan serpihan sampah antariksa baru.

Selain risiko tabrakan, emisi gas rumah kaca dari roket peluncur juga ikut menjadi sorotan. Ada pula potensi pelepasan logam berat saat satelit yang habis masa pakainya terbakar di atmosfer.

Jan Hasselman, pengacara senior di Earthjustice, menegaskan FCC tetap terikat kewajiban hukum ketika memberi otorisasi pada proyek yang mengincar ruang angkasa sebagai batas baru. Ia menilai regulator harus mempertimbangkan semua risiko dan dampak dari proposal tersebut.

“Undang-undang mewajibkan FCC mempertimbangkan semua risiko dan dampak dari proposal ini,” kata Jan Hasselman. Ia juga menyatakan organisasinya akan menuntut bila FCC dianggap tidak patuh.

Langit Gelap dan Satwa Liar

Kritik lain menyasar polusi cahaya ekstrem yang dapat mengubah langit malam secara permanen dan mengganggu pengamatan astronomi. Kekhawatiran ini membuat perdebatan soal pusat data luar angkasa meluas dari isu orbit menjadi persoalan lingkungan yang lebih luas.

Ruskin Hartley, Direktur Eksekutif DarkSky International, mengingatkan bahwa langit gelap alami memiliki nilai yang perlu dijaga. Menurutnya, proyek-proyek ini dapat merusak lingkungan secara keseluruhan jika tidak diawasi dengan serius.

Polusi cahaya juga berpotensi mengacaukan ritme alami satwa liar. Dampaknya bisa menjalar ke pola migrasi, jadwal makan predator malam seperti kelelawar dan singa gunung, hingga rantai makanan yang bergantung pada ritme itu.

“FCC perlu menanggapi secara serius kewajibannya untuk memastikan proyek-proyek ini tidak menyebabkan kerusakan yang tidak perlu pada langit yang gelap alami, atau pada lingkungan kita secara keseluruhan,” ujar Ruskin Hartley. Peringatan itu menegaskan bahwa ambisi memindahkan pusat data ke luar angkasa kini berhadapan langsung dengan batas perlindungan Bumi.

Source: mediaindonesia.com
Berita Terkait