Peluncuran album studio ke-26 Slank, Republik Fufufafa, langsung diarahkan sebagai panggung kritik sosial, bukan sekadar perkenalan karya baru. Grup ini memilih Markas Slank di Jalan Potlot 14, Duren Tiga, Jakarta Selatan, sebagai lokasi aksi teatrikal yang sarat simbol pada Jumat petang.
Sejak awal, suasana yang dibangun sudah menegaskan pesan utama yang ingin dibawa band tersebut. Slank menampilkan rangkaian visual tentang lingkungan, kebebasan berekspresi, dan realitas sosial dengan cara yang sengaja dibuat menonjol.
Para personel Slank datang menggunakan odong-odong berwarna kuning dan turun dengan topeng orangutan. Setibanya di area markas, mereka berpose di depan instalasi berbentuk bak mandi lalu bergerak ke tiang bendera yang saat itu dipasang setengah tiang.
Urutan aksi itu memperkuat nuansa protes sebelum musik dimainkan. Setelah orasi singkat, bendera kemudian dinaikkan dari setengah tiang hingga berkibar penuh, sebelum para personel berdiri tegap memberi hormat kepada Sang Merah Putih.
Bimbim menegaskan bahwa kebebasan berekspresi menjadi syarat penting agar seni dan budaya tetap hidup. Ia mengatakan, “Selama republik berdiri, Slank gak bakal mati. Selama seni, budaya, musik, dan kebebasan berekspresi gak dilarang atau dihalang-halangi, masih ada harapan untuk negeri ini.”
Lingkungan jadi poros pesan album
Kaka menjelaskan pemilihan 5 Juni sebagai waktu peluncuran dilakukan dengan sengaja karena bertepatan dengan peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia. Menurut dia, momen itu selaras dengan isi lagu-lagu di Republik Fufufafa yang banyak menyoroti hubungan manusia dan kerusakan alam.
Album ini membawa kritik terhadap perilaku manusia yang didorong keserakahan. Slank juga menyoroti dampaknya terhadap kerusakan lingkungan melalui lirik yang diambil dari kondisi yang benar-benar muncul di ruang publik.
Kaka menyebut lirik-lirik di album tersebut bukan hasil rekaan kosong. Ia mengatakan, “Lirik-lirik di album ini bukan hal yang mengada-ada. Kita mencoba men-capture dari berita-berita yang ada di media tentang kondisi yang ada.”
Warna musik lebih beragam
Di luar tema kritik sosial, Republik Fufufafa juga memperlihatkan sisi musikal yang lebih luas. Slank memasukkan sentuhan rock alternatif, rock and roll, hingga balada melankolis untuk memberi warna yang berbeda dari karya-karya sebelumnya.
Meski ragam musiknya lebih kaya, bahasa lirik yang dipakai tetap sederhana. Karakter “slengean” yang selama ini melekat pada identitas Slank tetap dipertahankan agar pesan kritik mereka mudah diterima.
Sebelum album penuh dirilis, Slank lebih dulu memperkenalkan dua single, yaitu Republik Fufufafa dan PPN 12%. Keduanya kemudian masuk ke dalam materi album studio ke-26 tersebut.
Pada momentum yang sama, Slank juga merilis video musik untuk single Rusak Ancur. Lagu ciptaan Bimbim itu dipakai sebagai medium kritik terhadap kerusakan lingkungan yang dinilai terjadi akibat ulah berbagai pihak.
Video klip Rusak Ancur dijadwalkan tayang pada malam hari ini pukul 00.00 WIB. Dengan rangkaian itu, peluncuran Republik Fufufafa sejak awal dibangun dalam nuansa protes, simbol perlawanan, dan kepedulian terhadap kondisi sosial di sekelilingnya.
Source: lifestyle.bisnis.com






