Di tengah Hiroshima yang pernah luluh lantak akibat ledakan bom atom, Genbaku Dome tetap berdiri sebagai salah satu bangunan paling dikenang dalam sejarah modern Jepang. Reruntuhan ini bukan sekadar sisa bangunan tua, melainkan tanda fisik tentang kehancuran yang terjadi dalam hitungan detik dan dampaknya yang dirasakan puluhan tahun kemudian.
Monumen Perdamaian Hiroshima itu kini berada di tepi Sungai Motoyasu, di kawasan Taman Peringatan Perdamaian Hiroshima. Banyak pengunjung datang bukan hanya untuk melihat bentuk bangunannya yang nyaris rata, tetapi juga untuk memahami besarnya kehilangan yang menyertai peristiwa bom atom di kota itu.
Bangunan yang berubah fungsi sebelum perang
Sebelum dikenal sebagai Genbaku Dome, bangunan ini bernama Gedung Promosi Industri Prefektur Hiroshima. Gedung tersebut selesai dibangun pada 5 April 1915 dan dirancang oleh arsitek Ceko Jan Letzel dengan perpaduan gaya Barok dan Art Nouveau Wina.
Pada masa sebelum perang, gedung itu memiliki peran penting dalam kehidupan kota. Tempat ini digunakan untuk pameran industri, kegiatan perdagangan, festival makanan tradisional, dan beragam acara seni.
Ledakan yang menghancurkan hampir semuanya
Situasi berubah drastis pada 6 Agustus 1945 pukul 08.15 pagi, ketika bom atom “Little Boy” meledak di langit Hiroshima. Titik ledaknya berada sekitar 200 meter ke tenggara dari bangunan yang kini dikenal sebagai Genbaku Dome, pada ketinggian sekitar 580 meter.
Dampaknya sangat besar. Sekitar 30 orang yang bekerja di dalam gedung tewas seketika, sementara hampir seluruh wilayah di sekitarnya hancur dalam waktu singkat. Meski begitu, struktur utama bangunan tidak runtuh seluruhnya.
Seorang penjaga malam disebut menjadi satu-satunya pegawai yang selamat karena pulang lebih awal. Peristiwa itu kemudian membuat bangunan tersebut dipandang sebagai salah satu saksi paling nyata dari ledakan nuklir pertama dalam sejarah manusia.
Mengapa reruntuhan ini dipertahankan
Setelah perang usai, bangunan itu sempat masuk daftar reruntuhan yang akan dibongkar. Namun, keberadaan struktur batu dan baja yang masih bertahan memunculkan perdebatan di tengah warga dan pemerintah setempat.
Sebagian pihak ingin menghilangkannya karena menyimpan trauma yang sangat berat. Di sisi lain, ada pandangan bahwa reruntuhan ini justru perlu dipertahankan agar generasi berikutnya dapat melihat langsung akibat perang nuklir.
Akhirnya, bangunan itu tidak dirobohkan dan dibiarkan tetap dalam bentuk reruntuhan asli. Keputusan ini menjadikan Genbaku Dome sebagai pengingat yang tidak dibangun ulang, melainkan dipertahankan apa adanya.
Langkah pelestarian yang dilakukan
Pelestarian monumen ini dilakukan dengan sejumlah upaya agar bentuk aslinya tetap terjaga. Berikut ringkasannya:
- Dibiarkan dalam bentuk reruntuhan asli tanpa atap tambahan.
- Diperkuat dari dalam dengan kerangka logam agar lebih aman.
- Dipertahankan tampilannya agar tetap historis dan tidak berubah menjadi bangunan baru.
Pada saat yang sama, Dewan Kota Hiroshima resmi menegaskan pelestarian monumen ini. Wali Kota Shinzo Hamai juga ikut menggalang dana perawatan, termasuk melalui sumbangan yang dikumpulkan di Tokyo.
Diakui dunia sebagai simbol perdamaian
Nilai sejarah Genbaku Dome semakin diakui secara internasional ketika Monumen Perdamaian Hiroshima masuk daftar Situs Warisan Dunia UNESCO pada Desember 1996. Pengakuan itu diberikan karena situs ini menjadi salah satu dari sedikit bangunan yang bertahan setelah ledakan nuklir pertama.
UNESCO menilai tempat ini penting sebagai simbol perdamaian dunia sekaligus peringatan atas daya rusak senjata nuklir. Meski sempat ada keberatan dari delegasi Amerika Serikat dan Tiongkok, status warisan dunia tetap disahkan.
Hingga kini, Genbaku Dome terus berdiri sebagai pengingat bahwa reruntuhan pun dapat menyampaikan pesan yang kuat tentang kemanusiaan. Dari bekas gedung promosi industri yang hancur menjadi simbol anti-nuklir, monumen ini tetap menjadi saksi sunyi atas tragedi Hiroshima dan sekitar 140.000 korban yang menyertainya.
Source: www.idntimes.com






