Respons Cahaya Bertahan 10 Jam Setelah Kematian, Mata Donor Kini Lebih Terjaga

Author: Redaksi Android62

Retina pada mata donor manusia masih mampu menghasilkan respons listrik ketika terkena cahaya hingga 10 jam setelah kematian. Temuan ini menunjukkan bahwa fungsi penting pada jaringan mata dapat dipertahankan lebih lama daripada yang sebelumnya dicapai dalam penelitian serupa.

Respons tersebut tercatat pada 15 dari 36 bola mata donor yang diuji. Durasi 10 jam itu menjadi dua kali lipat dibandingkan hasil penelitian pada 2022, ketika respons cahaya bertahan hingga lima jam.

Peluang Baru untuk Mempertahankan Mata Donor

Penelitian dipimpin Eimear Byrne dari Barcelona Institute of Science and Technology bersama timnya. Mereka menggunakan perangkat bernama Eye-in-Care-Box untuk menjaga kondisi mata di luar tubuh tetap mendekati keadaan saat masih terhubung dengan tubuh.

Perangkat ini mengalirkan larutan kaya oksigen melalui arteri oftalmik menuju mata dan jaringan di sekitarnya. Sensor di dalam sistem mengatur tekanan serta aliran cairan secara otomatis agar metabolisme jaringan dapat terus dipertahankan.

Upaya tersebut menargetkan masalah iskemia, yakni kekurangan oksigen pada jaringan. Retina sangat rentan terhadap kondisi ini karena gangguan singkat saja dapat memicu kerusakan permanen pada kepekaan neuron dan rangkaian pemrosesan cahaya.

Pengujian Jumlah Mata Donor Hasil
Perfusi dan tanpa perfusi 6 donor Perfusi menjaga struktur retina serta jaringan sekitar hingga 24 jam.
Respons listrik terhadap cahaya 36 bola mata 15 mata menunjukkan respons retina terhadap cahaya.
Mata dengan perlakuan perfusi 21 bola mata Belum diketahui alasan sebagian mata tidak menghasilkan respons serupa.

Struktur Retina Bertahan Lebih Lama

Dalam pengujian awal, satu mata dari masing-masing enam pendonor menerima perfusi, sedangkan mata pasangannya tidak mendapat perlakuan yang sama. Mata tanpa aliran larutan kaya oksigen mengalami kerusakan lebih cepat.

Hasil ini memperlihatkan bahwa sistem perfusi tidak hanya berkaitan dengan respons terhadap cahaya. Teknologi tersebut juga mampu menjaga struktur retina dan kesehatan jaringan di sekitar mata hingga 24 jam setelah kematian.

Meski demikian, peneliti belum mengetahui mengapa tidak semua mata yang diperlakukan dengan perfusi menghasilkan sinyal listrik retina. Sebanyak 21 bola mata menerima perlakuan tersebut dalam rangkaian pengujian, tetapi respons cahaya hanya terdeteksi pada sebagian sampel.

Hambatan Transplantasi Mata Masih Sangat Besar

Temuan ini belum berarti transplantasi seluruh bola mata dapat memulihkan penglihatan penerima. Tantangan terbesar tetap terletak pada sambungan antara retina dan otak melalui saraf optik.

Thomas Johnson dari Johns Hopkins University di Baltimore menjelaskan bahwa mata donor tidak dapat mengirimkan sensasi visual ke otak penerima tanpa regenerasi serat saraf optik yang terputus. Ia menilai keberhasilan mempertahankan respons cahaya pada mata di luar tubuh sebagai pencapaian yang luar biasa.

Transplantasi sebagian wajah dan seluruh bola mata memang telah dilakukan sejak 2023, tetapi prosedur itu belum mengembalikan penglihatan penerima. Berbeda dengan kornea, retina merupakan bagian dari jalur saraf visual yang harus tetap aktif dan kembali terhubung ke pusat penglihatan di otak.

Manfaat untuk Pengembangan Terapi Penglihatan

Menurut Liputan6.com yang mengutip New Scientist, lebih dari satu juta penduduk Inggris mengalami kebutaan atau gangguan penglihatan akibat kerusakan permanen, termasuk degenerasi makula pada retina. Kebutuhan terhadap model penelitian jaringan mata manusia pun menjadi semakin penting.

Eye-in-Care-Box berpotensi digunakan untuk menguji obat dan terapi penglihatan langsung pada mata manusia, bukan hanya pada hewan. Johnson juga menilai teknologi ini dapat menjadi model in-vitro untuk memahami biologi serta patologi penyakit mata manusia.

Dengan mata donor yang dapat dipertahankan dalam kondisi lebih sehat, riset mengenai pemulihan penglihatan memiliki ruang pengujian yang lebih luas. Namun, persoalan regenerasi saraf optik tetap menjadi tahapan krusial sebelum transplantasi mata dapat benar-benar memulihkan fungsi penglihatan.

Berita Terbaru