Risiko Headphone Bluetooth Bukan Pada Otak, Justru Volume Tinggi Bisa Merusak Pendengaran

Author: Redaksi Android62

Jika ada risiko yang paling layak diperhatikan dari headphone Bluetooth, letaknya justru pada telinga, bukan pada otak. Paparan suara keras yang berlangsung lama dapat merusak pendengaran secara permanen dan memicu tinnitus atau telinga berdenging.

Di tengah kekhawatiran bahwa perangkat nirkabel yang menempel dekat kepala bisa membahayakan tubuh, penjelasan ilmiah yang tersedia belum menunjukkan bahwa pemakaian normal headphone Bluetooth berbahaya bagi otak. Perangkat ini memancarkan radiasi elektromagnetik tingkat rendah yang tergolong nonionisasi, sehingga energinya tidak cukup kuat untuk merusak DNA atau memicu kerusakan sel seperti radiasi ionisasi.

Paparan Bluetooth tergolong sangat rendah

Headphone Bluetooth bekerja dengan gelombang radio berdaya rendah. Jenis radiasi ini berbeda dari sinar-X atau sinar ultraviolet yang memang memiliki potensi merusak jaringan tubuh.

Karena dayanya kecil, energi yang diserap tubuh saat memakai headphone Bluetooth juga sangat minim. Paparan seperti ini dinilai tidak signifikan untuk menimbulkan kerusakan biologis pada jaringan otak.

Lebih rendah dibandingkan ponsel

Tingkat paparan dari headphone Bluetooth juga jauh lebih rendah dibandingkan ponsel yang ditempel langsung ke telinga saat menelepon. Bluetooth hanya mengirim sinyal jarak pendek, sedangkan ponsel harus berkomunikasi dengan menara BTS yang bisa berada jauh dari pengguna.

Data ilmiah yang dikutip menyebut tingkat radiasi earbud atau headphone Bluetooth bisa 10 hingga 100 kali lebih rendah dibandingkan telepon seluler. Karena itu, headset nirkabel kerap dianggap sebagai pilihan yang lebih aman dalam hal paparan gelombang radio.

Isu kanker otak belum terbukti

Pertanyaan soal hubungan Bluetooth dengan kanker otak sempat ramai setelah muncul petisi dari sejumlah ilmuwan terkait paparan medan elektromagnetik. Meski begitu, hingga kini belum ada bukti klinis kuat yang membuktikan penggunaan Bluetooth menyebabkan kanker otak.

Istilah “mungkin karsinogenik” yang sering dikaitkan dengan perangkat nirkabel juga kerap disalahartikan. Kategori itu lebih menunjukkan sikap hati-hati ilmiah karena data jangka panjang masih terbatas, bukan berarti Bluetooth sudah terbukti memicu kanker.

Perhatian yang lebih relevan ada pada kebiasaan pemakaian

Volume suara menjadi faktor yang lebih menentukan daripada koneksi nirkabel itu sendiri. Mendengarkan audio dengan suara tinggi dalam waktu lama bisa merusak sel rambut halus di telinga bagian dalam secara permanen.

Kerusakan tersebut dapat berujung pada gangguan pendengaran dan tinnitus. Karena itu, pengguna disarankan menjaga volume sekitar 60 persen, memberi jeda istirahat telinga, dan menghindari pemakaian keras di tempat yang sunyi.

Kebersihan perangkat juga perlu dijaga

Selain volume, kondisi earbud atau headphone ikut berpengaruh pada kesehatan telinga. Perangkat yang lembap dan jarang dibersihkan bisa menjadi tempat berkembangnya bakteri dan meningkatkan risiko infeksi telinga.

Membersihkan earbud secara rutin dapat membantu mengurangi risiko tersebut. Pengguna juga disarankan melepas headphone saat tidak dipakai dan tidak menggunakannya terus-menerus tanpa jeda.

Sebagian orang tetap memilih membatasi paparan medan elektromagnetik sebagai langkah pencegahan tambahan. Selama tidak menimbulkan kekhawatiran berlebihan, pilihan itu masih sejalan dengan fakta bahwa produk resmi umumnya berada jauh di bawah batas keamanan internasional.

Source: www.beritasatu.com
Berita Terbaru