Robot Humanoid China Didorong Jadi Pengganti Tenaga Kerja, Tekanan Demografi Kian Nyata

China kini menempatkan robot humanoid sebagai jawaban atas kekurangan tenaga kerja yang makin terasa. Di tengah penyusutan usia kerja dan angka kelahiran yang terus turun, mesin-mesin itu tidak lagi diperlakukan sebagai pelengkap, melainkan calon pengganti pekerja manusia di pabrik dan layanan.

Tekanan tersebut bukan datang tiba-tiba. Populasi usia kerja China diperkirakan turun 37 juta orang dalam satu dekade ke depan, sementara Perserikatan Bangsa-Bangsa memperkirakan jumlah usia kerja di negara itu bisa menyusut drastis menjadi sekitar 300 juta jiwa pada akhir abad ini.

Lonjakan investasi dan dukungan negara

Respons pemerintah dan industri terlihat sangat agresif. Sepanjang lima bulan pertama 2025, investasi robotika China mencapai US$3,4 miliar, melampaui total investasi sepanjang 2024 dan lebih tinggi 42% dibandingkan investasi Amerika Serikat pada periode yang sama.

Di pasar, saat ini ada lebih dari 150 produsen aktif robot humanoid. Pemerintah China menargetkan robot humanoid masuk ke rantai pasok manufaktur pada 2027 dan membangun pasar domestik bernilai 300 miliar yuan pada 2035.

Pelacakan robot dibuat setara identitas mesin

Dukungan itu juga diwujudkan lewat infrastruktur khusus. Pada Mei 2025, Pusat Inovasi Robotika Humanoid Provinsi Hubei di bawah naungan Kementerian Perindustrian dan Teknologi Informasi China meluncurkan Platform Layanan Manajemen Siklus Hidup Penuh Robot Humanoid China.

Lembaga tersebut telah mencatat lebih dari 28.000 robot yang mencakup 200 model. Menurut The Next Web, setiap unit mendapat kode digital unik, dengan fungsi yang mirip identitas kependudukan bagi mesin.

Kode itu terdiri dari 29 karakter dan memuat rincian produsen, tingkat kemampuan AI, riwayat pelatihan software, hingga metrik kinerja waktu nyata dari tahap produksi sampai daur ulang. Sistem ini tidak hanya mendata, tetapi juga memantau armada robot yang ingin diperluas cepat melalui kebijakan pemerintah.

Target besar, hasil di lapangan belum secepat itu

Meski ambisinya tinggi, adopsi di lapangan belum sepenuhnya mulus. Laporan The Next Web menyebut hanya 23% pembeli saat ini yang puas dengan robot yang sudah mereka beli.

Laporan itu tidak merinci sumber ketidakpuasan tersebut. Kemungkinan masalahnya ada pada keandalan perangkat keras, kemampuan perangkat lunak, atau terbatasnya jenis tugas yang dapat dijalankan robot.

Status lebih dari 28.000 robot yang terdaftar juga belum sepenuhnya jelas. Belum diketahui apakah semuanya sudah dipakai dalam produksi atau sebagian masih berupa prototipe dan mesin uji coba.

Namun, jika masalah kepuasan itu bisa diatasi, permintaan berkelanjutan diperkirakan akan muncul lebih dulu di rantai pasok yang melayani lebih dari 150 produsen pesaing. Di saat yang sama, harga unit kelas industri buatan China untuk konfigurasi tertentu mulai turun hingga di bawah US$20.000, sehingga persaingan berikutnya kemungkinan besar akan ditentukan oleh kualitas software dan daya tahan teknologi.

Perubahan ini memperlihatkan bagaimana penuaan penduduk dan penurunan kelahiran mendorong China mempercepat otomatisasi. Dalam konteks itu, robot humanoid diposisikan bukan sekadar produk masa depan, melainkan alat untuk menutup kekosongan tenaga kerja yang makin sulit diatasi dengan cara lama.

Source: www.cnbcindonesia.com

Berita Terkait