Harga flagship Android buatan China makin mendekati level yang dulu identik dengan iPhone. Lu Weibing, Presiden Xiaomi, menyebut smartphone flagship China berpotensi menembus 10.000 yuan pada paruh kedua 2026, atau sekitar Rp22 juta.
Angka itu bukan sekadar soal gengsi. Jika batas tersebut terlewati, peta persaingan berubah karena ponsel Android premium China tidak lagi sekadar dipandang sebagai opsi yang lebih murah, melainkan sebagai produk yang harus dibeli dengan pertimbangan setara flagship Apple.
Biaya komponen ikut mendorong harga
Lonjakan harga ini tidak muncul karena produsen ingin menaikkan citra semata. Tekanan terbesar datang dari biaya memori yang naik tajam, terutama DRAM dan NAND flash.
Untuk konfigurasi populer 12GB RAM dan 512GB penyimpanan, biaya produksi memori dilaporkan hampir empat kali lipat dibanding awal 2025. Kenaikan itu menambah beban sekitar 1.500 yuan hanya dari komponen memori, sehingga harga jual ikut terdorong naik.
Dalam kondisi seperti ini, efisiensi produksi dan promosi musiman tidak lagi cukup kuat untuk menahan kenaikan biaya. Produsen pun menghadapi ruang gerak yang semakin sempit saat menentukan banderol flagship mereka.
Permintaan chip bergeser ke server AI
Situasi di pasar memori juga dipengaruhi perubahan besar di industri semikonduktor. Samsung, SK Hynix, dan Micron kini memprioritaskan produksi HBM atau High Bandwidth Memory untuk server AI, bukan LPDDR maupun NAND untuk smartphone.
Pilihan itu masuk akal karena margin HBM lebih tinggi. Dengan proyeksi infrastruktur AI tumbuh 28% year-on-year pada 2026, pabrik memori punya insentif kuat untuk memasok data center ketimbang pabrik ponsel.
Di sisi lain, pasar smartphone justru tidak sedang kuat. IDC memperkirakan pengiriman ponsel global turun 12,9% pada 2026, tetapi penurunan permintaan itu tidak otomatis membuat harga komponen turun karena pasokan sudah tersedot sektor AI.
Batas 10.000 yuan yang mulai goyah
Di Tiongkok, 10.000 yuan selama ini menjadi batas psikologis untuk smartphone Android premium. Selama bertahun-tahun, Xiaomi, OPPO, Vivo, dan Honor membangun reputasi lewat produk di kisaran 6.000–8.000 yuan dengan spesifikasi yang kerap diposisikan lebih menarik dari iPhone.
Strategi itu efektif karena konsumen melihat nilai lebih yang jelas. Narasi yang terbentuk sederhana: spesifikasi lebih tinggi, kamera bagus, dan harga sekitar 30% lebih murah dari iPhone.
Masalahnya, narasi tersebut melemah saat harga menanjak ke atas 10.000 yuan. Pada titik itu, iPhone tidak lagi tampak terlalu mahal, sementara merek China kehilangan salah satu pembeda utamanya.
Kenaikan sudah terasa di lini premium
Tanda tekanan biaya sudah terlihat di pasar. Xiaomi menaikkan harga Redmi K90 Pro Max dan seri Turbo 5 pada April 2026, sementara OPPO, OnePlus, Vivo, iQOO, dan Honor juga mengumumkan kenaikan 500–1.000 yuan pada model premium.
Kondisi itu menunjukkan bahwa beban biaya bukan lagi ancaman di atas kertas. Kenaikan sudah merembet ke produk yang lebih dulu hadir, dan pola itu berpotensi berlanjut ke flagship berikutnya.
Salah satu contoh yang ikut disorot adalah Xiaomi 17 Max. Model andalan itu sudah mulai ditebar teaser, tetapi harga finalnya belum dipastikan karena volatilitas biaya komponen.
Pasar premium makin menuntut keputusan sulit
Di kelas atas, pertanyaan terbesar bukan hanya apakah ponsel mahal masih bisa dijual. Pertanyaan yang lebih tajam adalah siapa yang bersedia membelinya ketika harga sudah mendekati level flagship Apple.
Di Tiongkok, pembeli premium umumnya terbagi antara penggemar teknologi yang mengejar spesifikasi dan pembeli status sosial yang lebih dekat dengan merek seperti iPhone. Jika flagship China menembus 10.000 yuan tanpa ekosistem sekuat Apple, risiko kehilangan dua kelompok itu sekaligus menjadi lebih besar.
Tekanan ekonomi makro, perlambatan konsumsi di Tiongkok, ketidakpastian geopolitik, dan preferensi generasi muda yang lebih hemat ikut mempersempit ruang gerak produsen. Lu Weibing memperkirakan tekanan harga memori akan bertahan hingga 2027, bahkan mungkin 2028, sebelum kapasitas baru dari Micron di AS atau SK Hynix di Korea beroperasi penuh.
Dalam situasi seperti itu, flagship Android China yang mendekati Rp22 juta bukan lagi sekadar perubahan angka di etalase. Ini menjadi tanda bahwa era ponsel premium murah sedang bergeser ke pasar yang jauh lebih mahal dan jauh lebih ketat.







