Sidang antara Elon Musk dan OpenAI memasuki fase yang tidak biasa sejak pemilihan juri dimulai. Sejumlah calon juri secara terbuka mengaku tidak menyukai Musk, tetapi pengadilan tetap menilai mereka masih bisa bersikap adil dan objektif.
Sikap itu langsung membuat proses di Oakland jadi sorotan. Hakim Yvonne Gonzalez Rogers menegaskan bahwa pandangan negatif terhadap tokoh publik seperti Musk tidak otomatis membuat seseorang tidak layak duduk sebagai juri, selama mereka mampu menilai bukti tanpa bias.
Di ruang seleksi, beberapa calon juri menyampaikan penilaian yang sangat keras terhadap Musk. Ada yang menyebutnya “serakah, rasis, homofobik,” sementara yang lain menggambarkannya sebagai “world-class jerk”.
Tim hukum Musk berupaya menyingkirkan calon-calon juri tersebut dari daftar. Namun permintaan itu tidak dikabulkan, karena hakim menilai ketidaksukaan pribadi tidak otomatis menghapus kemampuan seseorang untuk memutus perkara secara adil.
Pada akhirnya, sembilan juri dipilih untuk menangani perkara ini. Komposisinya beragam, mulai dari seorang pelukis, mantan pegawai Lockheed Martin, hingga seorang psikiater.
Mereka disebut telah meyakinkan pengadilan bahwa pandangan pribadi terhadap Musk maupun kecerdasan buatan tidak akan memengaruhi penilaian mereka terhadap bukti. Dalam perkara sebesar ini, keyakinan tersebut menjadi penting karena sidang tidak hanya menyentuh konflik bisnis, tetapi juga arah tata kelola AI ke depan.
Sengketa ini berawal dari gugatan Musk terhadap Sam Altman terkait perubahan struktur OpenAI. Musk menuduh Altman memperoleh keuntungan finansial dari pergeseran OpenAI dari organisasi nirlaba murni menjadi public benefit corporation yang berorientasi laba.
Ia juga menyerang Greg Brockman, Presiden OpenAI sekaligus salah satu pendiri perusahaan tersebut. Menjelang persidangan, Musk meningkatkan serangan di X dengan menyebut Sam Altman sebagai “scam Altman” dan menuduh Altman serta Brockman telah “mencuri sebuah badan amal”.
Langkah hukum itu membuat ruang sidang berpotensi membahas lebih jauh bagaimana OpenAI dibangun, dibiayai, dan dijalankan. Salah satu bagian yang ikut disorot adalah hubungan OpenAI dengan Microsoft.
Karena itu, perkara ini jauh melampaui sengketa personal antara Musk dan Altman. Apa yang muncul di pengadilan dapat memberi gambaran tentang siapa yang memegang kendali atas teknologi AI dan bagaimana kepentingan komersial membentuk arahnya.
Taruhannya juga tinggi karena AI kini dipandang sebagai teknologi yang bisa mengubah banyak sektor. Di sisi lain, teknologi ini memunculkan kekhawatiran luas, mulai dari ancaman terhadap lapangan kerja hingga risiko yang dinilai bisa berdampak pada kemanusiaan.
Dalam konteks itulah gugatan Musk mendapat perhatian besar. Ia tidak hanya mempersoalkan keputusan bisnis OpenAI, tetapi juga menempatkan perubahan struktur perusahaan sebagai inti perselisihan yang menurutnya terkait dengan misi awal organisasi tersebut.
Persidangan ini juga memperlihatkan bentrokan terbuka antara dua tokoh yang dulu sama-sama terhubung dengan OpenAI. Kini, hubungan itu berubah menjadi pertarungan hukum yang akan diuji di hadapan juri federal.
Pada Selasa, pengacara OpenAI dan Elon Musk dijadwalkan menyampaikan pernyataan pembuka. Setelah itu, saksi pertama akan mulai memberikan kesaksian di hadapan pengadilan.
