Ruben Onsu mengaku terpukul berat setelah melihat reaksi dingin salah satu putrinya di Bandara Soekarno-Hatta. Ia menyebut momen singkat itu membuat hatinya “hancur, patah, dan remuk”.
Pengakuan tersebut disampaikan Ruben dalam podcast Kacamata Nanda, yang kemudian dikutip oleh beritasatu.com pada Selasa (7/7/2026). Reaksi putrinya sebelumnya ramai dibicarakan di media sosial setelah cuplikan pertemuan mereka tersebar.
Reaksi yang meninggalkan luka bagi Ruben
Ruben menjelaskan bahwa peristiwa itu terjadi sebelum dirinya berangkat umrah. Bagi dia, respons anaknya di bandara menjadi pengalaman emosional yang sangat berat.
“Saya cuma melihat reaksi anak saya di bandara itu (Soetta), buat saya hancur, patah, dan remuk,” kata Ruben Onsu dikutip dari podcast Kacamata Nanda.
Meski merasakan pukulan emosional, Ruben mengatakan dirinya tetap bersyukur karena sempat pergi ke tempat Allah setelah kejadian tersebut. Ia menilai kesempatan itu memberinya ruang untuk mencurahkan perasaan di rumah Allah Swt.
Pertemuan yang dinilai bukan kebetulan
Ruben juga menafsirkan pertemuannya dengan kedua putrinya setelah lama tidak bertemu sebagai sesuatu yang sudah ditentukan. Menurutnya, momen itu merupakan bagian dari takdir yang harus dijalani.
“Jadi, pertemuan itu gue percaya memang sudah ada takdirnya karena memang kita harus bertemu di situasi itu untuk semakin terbuka lagi,” lanjutnya.
Ia kemudian menyinggung pula tindakan Sarwendah yang ikut ramai diperbincangkan di media sosial. Ruben menilai sikap tersebut tidak muncul begitu saja dan diyakini dipengaruhi oleh pihak lain di belakangnya.
| Pokok Perkara | Penjelasan Ruben Onsu |
|---|---|
| Reaksi di bandara | Membuatnya merasa hancur, patah, dan remuk |
| Waktu peristiwa | Terjadi sebelum keberangkatan umrah |
| Makna pertemuan | Dianggap sebagai takdir untuk membuka keadaan |
| Pandangan soal Sarwendah | Dinilai ada pihak yang mengompori di belakang |
Menilai ada yang mengompori di belakang
Menurut Ruben, Sarwendah tetap memiliki sisi baik. Namun, ia meyakini perilaku yang dipersoalkan itu tidak akan terjadi tanpa adanya dorongan dari orang lain.
“Dia tidak akan seperti itu, jika tidak ada yang ngompori di belakangnya, jika tidak ada dalangnya di belakang. Saya bicara fair di sini, jangan dipikir dia (Sarwendah) tidak ada sisi baiknya, ada. Makanya, saya bilang tidak akan mungkin dia berlaku seperti itu kalau tidak ada yang ngomporin,” ujarnya.
Ruben menutup pernyataannya dengan pesan tentang pentingnya kasih dalam keluarga. Ia menegaskan bahwa tidak semestinya ada tindakan yang mempermalukan seorang ayah di depan keluarga maupun orang terdekat.
“Seharusnya orang-orang itu punya kasih, bukan mempermalukan ayahnya, atau mempermalukan ayahnya keponakan lu,” tutupnya.
