Rupiah Melemah dan Program Pemerintah Disorot, BEM Jatim Siapkan Aksi Turun Jalan

Dua elemen Badan Eksekutif Mahasiswa di Jawa Timur mulai menyiapkan langkah aksi setelah seruan Reformasi Jilid II kembali digaungkan. Mereka menilai situasi politik dan kebijakan nasional saat ini memunculkan keresahan yang tidak hanya dirasakan mahasiswa, tetapi juga masyarakat luas.

Koordinator Daerah BEM Nusantara Jatim Official, Muhammad Zainnur Abdillah, menyebut pelemahan rupiah yang berada di level Rp18.012 menjadi salah satu pemicu pembahasan internal. Bersamaan dengan itu, sejumlah program pemerintahan Prabowo-Gibran juga mereka nilai membebani fiskal karena banyak menyerap anggaran negara.

Isu Ekonomi Dan Beban Anggaran

Dalam pembahasan mereka, program Koperasi Desa Merah Putih, MBG, dan pembangunan batalion masuk dalam daftar isu yang akan dibawa ke aksi. Zainnur mengatakan banyak pos anggaran yang disubsidi negara sehingga memunculkan beban ekonomi yang perlu dikritik.

Pihaknya juga sedang membahas skema aksi simbolis yang akan dipilih dalam konsolidasi mendatang. Selain itu, BEM Nusantara Jatim Official meminta teman-teman di kampus segera menyusun kajian agar narasi persoalan negara dapat dinaikkan lebih luas.

Konsolidasi Di Daerah

BEM Nusantara Jatim Id bergerak dengan pola yang serupa, yakni menguatkan konsolidasi di tingkat akar rumput. Koordinator Daerahnya, Deni Oktaviano Pratama, menyebut setiap kabupaten dan kota yang terafiliasi di bawah jaringan itu tengah menyiapkan penguatan gerakan aksi dalam 2 atau 3 pekan ke depan.

Deni menegaskan waktu aksi belum ditetapkan karena proses konsolidasi masih berjalan. Meski begitu, ia menilai pelemahan rupiah dan dinamika kebijakan pemerintah bisa membuat gerakan turun ke jalan berlangsung lebih cepat dari rencana awal.

Kritik Terhadap Arah Kebijakan

BEM Nusantara Jatim Id menyoroti program MBG dan Kopdes, serta mengaitkannya dengan keresahan atas masuknya militerisme ke ranah sipil sejak RUU TNI disahkan menjadi undang-undang. Mereka juga mengaitkan keresahan itu dengan sejumlah kasus penyerangan terhadap sipil yang dinilai memperkuat dugaan kemunduran demokrasi.

Menurut Deni, mahasiswa tidak membenci sosok pemimpin negara. Namun, mereka memandang kritik, saran, dan ultimatum kepada pemerintah sebagai bagian dari amanat rakyat yang harus disampaikan secara terbuka.

Deni juga menyebut persoalan permainan MBG yang diduga mencakup jual-beli titik lokasi serta kasus yang menyeret mantan Kepala BGN Dadan Hindayana Cs sebagai tersangka. Hal itu, menurutnya, menunjukkan kemunduran dalam pelaksanaan program pemerintah saat ini.

Gelombang Narasi Reformasi Jilid II

Seruan Reformasi Jilid II tidak hanya datang dari satu jaringan mahasiswa, melainkan muncul dari BEM Nusantara Jatim Id dan BEM Nusantara Jatim Official melalui media sosial mereka. Kedua elemen itu sama-sama menempatkan keresahan publik sebagai alasan utama gerakan.

Zainnur mengatakan gerakan di daerah lain, termasuk Jawa Tengah, ikut mendorong BEM di Jawa Timur untuk tidak tinggal diam. Karena itu, pihaknya sepakat melakukan konsolidasi pada tanggal 16 bersama perwakilan BEM se-Jawa Timur dari Surabaya, Malang, Sidoarjo, dan Gresik.

Ia menutup dengan peringatan agar pemerintah segera sadar, membenahi sistem, serta mengevaluasi dan mengawasi kebijakan yang berjalan. Jika tekanan publik terus diabaikan, gelombang aksi besar disebut berpotensi turun ke jalan, meski mahasiswa tetap berharap tidak terjadi kericuhan atau krisis yang membuat rakyat menderita.

Source: www.detik.com

Berita Terkait