Rupiah Menguat Dua Hari Beruntun ke Rp17.144, Pasar Menanti Keputusan BI Esok Hari

Author: Redaksi Android62

Rupiah mempertahankan penguatan saat pasar mencermati meredanya ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran. Pada perdagangan Selasa sore, mata uang Garuda ditutup naik 0,15% ke level Rp17.144 per dolar AS dan mencatat penguatan untuk dua hari beruntun.

Pergerakan tersebut terjadi ketika tekanan dari luar negeri mulai berkurang. Stabilnya indeks dolar AS di posisi 98,18 memberi ruang bagi rupiah untuk tetap bertahan, sementara penurunan harga minyak dunia ikut membantu meredakan kekhawatiran pasar terhadap sisi energi.

Di pasar komoditas, harga minyak menunjukkan koreksi yang cukup jelas pada pukul 14:50 WIB. WTI turun 1,79% menjadi US$88,01 per barel, sedangkan Brent melemah 1,13% ke US$94,4 per barel.

Kondisi itu membuat pelaku pasar menilai risiko geopolitik dengan lebih tenang. Meski begitu, situasinya belum sepenuhnya dianggap selesai karena dinamika global masih bergerak cepat dan bisa berubah dalam waktu singkat.

Di kawasan Asia, rupiah tampil menonjol dibanding sejumlah mata uang lain. Dolar Taiwan menguat 0,13%, won Korea Selatan naik 0,11%, dan peso Filipina bertambah 0,06%, sedangkan yuan China serta yuan offshore masing-masing naik 0,03% dan 0,01%.

Penguatan rupiah dalam kelompok mata uang regional menunjukkan minat pasar terhadap aset berdenominasi rupiah masih terjaga. Namun, kekuatan ini belum bisa dibaca sebagai perubahan fundamental yang sepenuhnya solid.

Pasar masih menimbang apakah tren positif tersebut mampu bertahan. Tekanan dari geopolitik dan energi masih berpotensi muncul kembali, apalagi harga minyak global belum turun ke level yang sepenuhnya aman dari sudut pandang makro.

Dari sisi domestik, pasar surat utang rupiah tetap menjadi perhatian investor asing. Hingga 17 April 2026, dana investor asing yang masih ditempatkan di pasar surat utang rupiah tercatat sebesar US$86,6 juta, dengan imbal hasil acuan berada di level 6,57%.

Minat terhadap Sekuritas Rupiah Bank Indonesia atau SRBI juga terlihat kuat. Dalam lelang pada Jumat, 17 April 2026, total penawaran yang masuk mencapai Rp50 triliun, dan Bank Indonesia menyerap Rp19 triliun dari jumlah tersebut.

Tenor 12 bulan menjadi yang paling diminati dengan penawaran Rp40,7 triliun. Pada tenor itu, BI menyerap Rp17 triliun, sedangkan tenor 6 bulan diserap Rp1,5 triliun dan tenor 9 bulan sebesar Rp500 miliar.

Di tengah perhatian pasar ke aset rupiah, fokus berikutnya tertuju pada pengumuman suku bunga acuan Bank Indonesia yang dijadwalkan esok hari. Berdasarkan survei terhadap 22 ekonom, suku bunga diperkirakan tetap berada di level 4,75%.

Ekspektasi tersebut menjadi penting karena pasar ingin melihat arah kebijakan moneter saat ketidakpastian global belum sepenuhnya mereda. Jika BI mempertahankan suku bunga, pasar akan menilai stabilitas kebijakan masih dijaga sambil menunggu apakah penguatan rupiah bisa berlanjut.

Berita Terbaru