Rupiah Tertekan Dua Arah, Geopolitik Timur Tengah dan Permintaan Dolar Dalam Negeri Menguatkan Tekanan

Bank Indonesia menempatkan kebutuhan dolar di dalam negeri sebagai salah satu tekanan terbesar yang membuat rupiah kembali terjepit. Di saat yang sama, bank sentral juga menyoroti gejolak geopolitik di Timur Tengah yang ikut menjaga pasar tetap sensitif terhadap mata uang emerging market.

Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti menjelaskan bahwa dua faktor itu bergerak bersamaan dan sama-sama memberi tekanan pada rupiah. Kondisi tersebut membuat pelemahan mata uang Indonesia tidak hanya dipengaruhi sentimen global, tetapi juga masih ditopang kuatnya permintaan valas dari dalam negeri.

Permintaan valas korporasi masih tinggi

Menurut BI, kebutuhan dolar di pasar domestik masih besar untuk repatriasi dividen dan pembayaran utang luar negeri. Tekanan dari korporasi dan kewajiban luar negeri ini membuat pasar valas tetap padat permintaan, sehingga rupiah sulit lepas dari tekanan dalam waktu dekat.

Destry menilai kondisi itu menjadi salah satu alasan pelemahan rupiah tidak semata-mata berasal dari faktor luar. Saat kebutuhan valas tetap besar, pasar domestik ikut memperkuat tekanan yang sudah datang dari eksternal.

Geopolitik Timur Tengah ikut mengangkat tekanan pasar

Di sisi global, tensi geopolitik di Timur Tengah membuat harga minyak tetap tinggi. BI menilai kondisi ini berpotensi menaikkan risiko inflasi global dan memicu arus dana keluar dari negara berkembang.

Destry juga menyebut pergerakan rupiah masih sejalan dengan mata uang negara lain di kawasan yang sama-sama tertekan oleh sentimen eksternal. Dalam kondisi seperti itu, pasar cenderung bereaksi lebih sensitif terhadap setiap perkembangan yang memengaruhi aset berisiko.

Secara year to date, rupiah tercatat melemah 7,44%. Meski begitu, cadangan devisa Indonesia masih berada di level US$ 146,2 miliar pada akhir April 2026.

BI siapkan intervensi berkelanjutan

Untuk menjaga stabilitas, BI menyatakan akan terus hadir di pasar dan meningkatkan intensitas intervensi. Langkah itu diarahkan agar mekanisme pasar tetap berjalan baik dan rupiah bergerak sesuai fundamental.

Intervensi dilakukan secara berkesinambungan melalui transaksi Non-Deliverable Forward di pasar offshore, spot, dan Domestic Non-Deliverable Forward di pasar domestik. BI juga tetap membeli SBN di pasar sekunder sambil memperkuat koordinasi dan komunikasi dengan korporasi serta pelaku pasar.

Selain itu, bank sentral akan memperkuat struktur suku bunga instrumen moneter pro-market. Kebijakan tersebut ditujukan agar aliran modal masuk ke aset domestik tetap menarik di tengah tekanan pasar global.

Dorongan transaksi dengan mata uang lokal

BI juga mendorong penggunaan mata uang lokal dalam kerja sama bilateral melalui skema Local Currency Transaction. Skema ini dijalankan bersama China, Jepang, Malaysia, Thailand, Korea Selatan, dan Uni Emirat Arab.

Destry menyampaikan bahwa diversifikasi transaksi perdagangan lewat LCT terus meningkat pada bulan April hingga sekitar US$ 22,7 miliar. Sebagai pembanding, total diversifikasi transaksi perdagangan dengan mata uang lokal sepanjang tahun lalu sekitar US$ 25,7 miliar.

Di tengah tekanan yang datang dari luar dan dari kebutuhan dolar domestik, cadangan devisa yang masih tinggi menjadi penopang penting bagi stabilitas pasar. Namun BI tetap menghadapi tantangan karena dua sumber tekanan itu masih berlangsung bersamaan.

Source: finance.detik.com

Berita Terkait